Serang 13 Kelurahan, Kasus Campak Melonjak di Cimahi
Limawaktu.id, Lonjakan kasus Campak di Kota Cimahi kian mengkhawatirkan. Hingga pertengahan April 2026, Dinas Kesehatan Kota Cimahi mencatat 237 kasus suspek, dengan 28 di antaranya telah terkonfirmasi positif.
Angka ini meningkat signifikan dibanding awal April yang masih berada di 155 suspek dan 16 kasus positif. Sebaran kasus kini menjangkau 13 kelurahan, dengan mayoritas penderita adalah anak-anak.
Kepala Dinkes Cimahi, Mulyati, mengungkapkan fakta krusial di balik lonjakan tersebut sebagian besar pasien positif belum pernah menerima imunisasi campak atau vaksin MR.
“Mayoritas yang positif itu belum diimunisasi. Ini yang menjadi perhatian serius kami,” tegasnya, Kamis, 30 April 2026.
Meski seluruh pasien dilaporkan telah sembuh dan belum ada kematian, Mulyati mengingatkan bahwa situasi ini tidak boleh dianggap sepele. Campak dikenal sangat menular dan berpotensi menimbulkan komplikasi berat.
“Ini bukan sekadar ruam biasa. Campak bisa menyebabkan pneumonia, radang otak, bahkan kematian jika tidak ditangani dengan tepat,” ujarnya.
Dinkes pun mendorong orang tua segera melengkapi imunisasi anak. Vaksin MR dinilai sebagai perlindungan paling efektif untuk menekan penularan dan mencegah keparahan penyakit.
Di tengah lonjakan kasus, kewaspadaan masyarakat juga menjadi kunci. Penularan terjadi melalui droplet, sehingga disiplin menjalankan etika batuk, mencuci tangan, serta membatasi kontak dengan penderita bergejala menjadi langkah penting.
Masyarakat diminta tidak menunda penanganan jika muncul gejala seperti demam tinggi, batuk kering, pilek, mata merah, hingga bercak putih di mulut. Pasien juga harus menjalani isolasi mandiri minimal empat hari sejak ruam muncul untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Sebagai respons, Dinkes Cimahi memperketat skrining, penyelidikan epidemiologi, serta menggencarkan edukasi dan imunisasi hingga ke tingkat komunitas, termasuk rumah ibadah dan pengajian.
Lonjakan ini menjadi peringatan keras bahwa celah imunisasi sekecil apa pun dapat memicu penyebaran penyakit menular secara cepat—dan anak-anak menjadi kelompok paling rentan.