Secangkir Kopi, Jejak Sejarah Kolonial dan Perjuangan Bangsa
Limawaktu.id, Kota Bandung - Secangkir kopi yang tersaji di hadapan kita sesungguhnya menyimpan perjalanan sejarah yang panjang, intrik ekonomi global, serta perjuangan sosial yang luar biasa. Kopi bukan sekadar minuman, melainkan artefak peradaban yang menghubungkan kisah seorang penggembala kambing di Ethiopia kuno dengan seorang barista di kedai kopi modern di Jakarta.
Prof. Dr. H. Yaya Mulyana Abd Aziz menjelaskan, pada masa kolonial Belanda kopi merupakan minuman istimewa yang hanya dinikmati kalangan elite, seperti pejabat kolonial, gubernur, dan bupati. Sementara itu, masyarakat pribumi tidak leluasa menikmati kopi karena harganya mahal dan hasil panennya lebih banyak diperuntukkan bagi kepentingan kolonial. Bahkan, istilah "ngopi" di kalangan masyarakat saat itu lebih sering dimaknai sebagai kebiasaan minum teh disertai makanan ringan pada sore hari.
Sejarah penanaman kopi secara besar-besaran di Indonesia tidak terlepas dari kondisi ekonomi Belanda setelah Perang Diponegoro pada 1825–1830. Perang tersebut menguras keuangan pemerintah kolonial sehingga Belanda mencari berbagai cara untuk memulihkan kondisi ekonominya.
"Saat itulah Johannes van den Bosch mengusulkan sistem tanam paksa (Cultuurstelsel). Setelah diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda, ia bekerja sama dengan para bupati untuk mewajibkan masyarakat menanam kopi. Hasil panennya kemudian dikirim ke Belanda sebagai sumber pemasukan negara," jelas Yaya, Kamis, 2 Juli 2026.
Dia melanjutkan, para bupati yang mampu menghasilkan kopi dalam jumlah besar memperoleh berbagai penghargaan dari pemerintah kolonial. Kondisi tersebut melahirkan kelompok elite lokal yang memperoleh keuntungan dari sistem tanam paksa, sementara masyarakat pribumi harus bekerja keras tanpa memperoleh imbalan yang layak.
"Kopi dari Nusantara dikenal memiliki kualitas sangat baik sehingga sangat diminati di Eropa. Ironisnya, masyarakat pribumi justru tidak bebas menikmati hasil tanamnya sendiri karena hampir seluruh produksi dikirim ke Belanda," katanya.
Menurut Yaya, praktik tanam paksa tersebut kemudian mendapat sorotan dari Eduard Douwes Dekker atau Multatuli, seorang penulis Belanda yang menaruh perhatian terhadap penderitaan rakyat di tanah jajahan. Melalui karya-karyanya, terutama novel Max Havelaar, Multatuli mengungkap berbagai praktik penindasan yang terjadi di Hindia Belanda dan mendorong lahirnya kritik terhadap sistem tanam paksa.
Yaya mengatakan, kisah panjang tersebut menjadi bagian penting dalam buku Sejarah Tata Niaga Kopi yang ditulisnya bersama Wawan Kurniawan. Buku itu mengajak pembaca memahami bahwa secangkir kopi tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menyimpan jejak kolonialisme, perjuangan rakyat, serta dinamika perdagangan yang membentuk sejarah Indonesia.