Kamis, 18 Juni 2026 13:57

Refleksi 25 Tahun Kota Cimahi, Pendiri Kota Ajak Generasi Penerus Wujudkan Cimahi Sejahtera

Limawaktu.id, Kota Cimahi - Momentum 25 tahun berdirinya Kota Cimahi menjadi ajang refleksi bagi para tokoh pendiri dan masyarakat untuk menatap masa depan kota menuju tahun 2045. Hal itu mengemuka dalam kegiatan Sarasehan Refleksi 25 Tahun Kota Cimahi yang menghadirkan berbagai elemen masyarakat, akademisi, pemerintah, dan para pelaku sejarah pembentukan Kota Cimahi. Sarasehan digelar Komponen Masyarakat Pendukung Cimahi Otonom (KMPCO) di Hotel Tjimahi, Rabu, 17 Juni 2026.

Mewakili Ketua Pelaksana H. Dedi Mulyadi, Usman Rachman menyampaikan bahwa peringatan seperempat abad Kota Cimahi tidak hanya menjadi ajang mengenang perjalanan sejarah, tetapi juga momentum untuk merumuskan arah pembangunan kota di masa depan.

Menurutnya, usia 25 tahun dapat diibaratkan sebagai "kawin perak" yang menjadi penanda kedewasaan sebuah daerah dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.

"Kita ingin melihat bagaimana Cimahi pada tahun 2045. Mungkin sebagian dari kita tidak akan mengalaminya, tetapi generasi muda yang hadir hari ini akan menjadi pelaku sejarah berikutnya. Karena itu, kita harus mewariskan sesuatu yang positif agar Cimahi tetap mampu mensejahterakan masyarakatnya," ujar Usman.

Ia menegaskan bahwa sarasehan tersebut bukan untuk mencari kesalahan pihak tertentu, melainkan sebagai ruang refleksi bersama mengenai perjalanan Cimahi dari masa lalu, kondisi saat ini, hingga harapan di masa mendatang.

"Refleksi ini tentang bagaimana Cimahi kemarin, hari ini, dan ke depan. Yang terpenting bukan persoalan personal, tetapi bagaimana kita bersama-sama memberikan kontribusi terbaik untuk kota ini," katanya.

Usman juga menekankan pentingnya keberadaan masyarakat yang tidak hanya hadir secara eksistensi, tetapi juga memiliki fungsi dan manfaat bagi lingkungan sekitar.

"Eksistensi tanpa fungsi itu nol. Kita berharap eksistensi masyarakat dibarengi dengan fungsi yang nyata dan memberikan manfaat bagi orang lain," tambahnya.

Sementara itu, salah seorang pelaku sejarah pembentukan Kota Cimahi Glen Muhammad Bakri  yang hadir dalam sarasehan tersebut mengisahkan perjuangan panjang pemekaran Cimahi menjadi daerah otonom.

Dia mengungkapkan bahwa gagasan pembentukan Kota Cimahi telah diperjuangkan sejak akhir tahun 1998 melalui berbagai forum diskusi, konsolidasi masyarakat, hingga sosialisasi ke seluruh kelurahan yang ada saat itu.

 Menurutnya, perjuangan tersebut tidak mudah karena pada masa itu respons pemerintahan di kabupaten induk yakni Kabupaten Bandung  terhadap usulan pemekaran belum sepenuhnya positif. Namun berbagai elemen masyarakat terus bergerak memperjuangkan aspirasi warga agar Cimahi dapat berdiri sebagai kota mandiri.

"Ketika itu kondisi Cimahi masih sangat terbatas. Pendapatan daerah cukup besar, tetapi pembangunan yang dirasakan masyarakat masih minim. Infrastruktur pasar, jalan, hingga pelayanan publik masih menghadapi banyak kendala," ungkapnya.

Meski demikian, ia mengapresiasi berbagai kemajuan yang telah dicapai Kota Cimahi selama 25 tahun terakhir. Menurutnya, wajah kota kini jauh lebih berkembang dan memiliki daya tarik yang semakin kuat.

Namun demikian, sejumlah persoalan mendasar masih menjadi pekerjaan rumah bersama, seperti penanganan banjir, pengangguran, serta pemberdayaan masyarakat yang perlu terus diperkuat.

Ia juga berharap pembangunan ke depan lebih berorientasi pada kebutuhan masyarakat di tingkat lingkungan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara langsung oleh warga.

"Kami berharap semangat para pendiri tetap dilanjutkan. Cimahi sudah berkembang pesat, tetapi masih banyak hal yang harus diselesaikan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.

Melalui Sarasehan Refleksi 25 Tahun Kota Cimahi, para peserta berharap lahir berbagai gagasan strategis yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah dalam menyusun arah pembangunan menuju Indonesia Emas 2045 sekaligus mewujudkan Kota Cimahi yang semakin maju, mandiri, dan sejahtera.