Senin, 25 November 2019 17:48

Potret Hari Guru di Cimahi:Honorer 'Nyambi' jadi Tukang Ojek Hingga Jualan Batagor

Eko Marhendro Guru Honorer SDN Kihapit 1 Kota Cimahi. [Fery Bangkit]

Limawaktu.id - Bila pagi hari, lelaki bernama Eko Marhendro ini jadi guru kelas. Usai menjalani tugasnya sebagai seorang guru, pria berusia 53 tahun itu lantas tak langsung istirahat. Ia mencari tambahan dengan menjadi tukang ojek konvensional. Menjadi tukang ojek terpaksa ia lakukan sebab penghasilannya dari seorang guru honorer tidaklah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Saat ditemui disela-sela peringatan Hari Guru Nasional pada Senin (25/11/2019) di Kompleks Pemkot Cimahi, Jalan Rd. Hardjakusumah, pria yang juga menjadi Koordinator Pegawai Aliansi Honorer K2 Bersatu Kota Cimahi menceritakan perjuangannya menjadi guru honorer.

Eko Marhendro Guru Honorer SDN Kihapit 1 Kota Cimahi.

Ia menuturkan, pertama kali menjadi guru honorer itu tahun 2003 dengan mengajar Bahasa Inggri di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kihapit 1 Kota Cimahi. Saat itu, Eko hanya dibayar Rp 50 ribu per bulan. "Waktu itu gak ada dana BOS (Dana Operasional Sekolah)," tutur Eko.

Seiring berjalannya waktu, tugasnya sebagai guru bertambah dengan pelajaran komputer. Bayarannya naik menjadi Rp 100 ribu per bulan. Sejak adanya BOS, penghasilannya dengan menjadi guru honorer otomatis naik menjadi Rp 600 ribu per bulan.

Namun meski ada peningkatan penghasilan, itu tidak akan mencukupi kebutuhan keluarganya. Apalagi Eko harus menyekolahkan dua anaknya. Menjadi tukang ojek konvensional pun dipilihnya agar bisa mendapat uang tambahan.

Aktifitas 'nyambi' itu dilakukannya disaat waktu senggang. Sebab, prioritas utamanya adalah mengajar. Apalagi Eko kini menjadi guru kelas, yang artinya harus mengajarkan seluruh mata pelajaran kepada siswanya. "Saya kadang ngojek sampingan, tapi bukan prioritas. Dapet paling Rp 40-50 ribu dari ngojek" ujar pria asal Cibeber, Cimahi Selatan, Kota Cimahi itu.

Meski dengan penghasilan yang terbilang pas-pasan, Eko tetap bersyukur dan menikmati profesinya menjadi seorang guru. Ia dan para tenaga honorer lainnya tetap semangat dalam memberikan pelayanan pendidikan bagi masyarakat.

"Kita tetap semangat, gak lelah walau status honorer. Harus pergi pagi, walau belum ada kesejahteraan. Tetap tanggung jawab kita kepada siswa," ujarnya. Jerih payah Eko sendiri kini terbayar tuntas dengan gelar Strata Satu (S-1) yang diraih kedua anaknya. Selain dari tukang ojek konvensional, kebutuhan hidupnya untuk keluarga dan menyekolahkan anaknya terbantu dengan adanya pemberian dana insentif dari Pemkot Cimahi.

Dana insentif sebagai honorer sebesar Rp 600 ribu per bulan itu diterimanya setiap tiga bulan sekali. Artinya, setiap tiga bulan Eko menerima Rp 1,8 juta dari Pemkot Cimahi. "Saya apresiasi atas pemberian insentif ini. Apalagi wacananya tahun 2020 akan diberikan sebulan sekali," ujar Eko.

Khusus pada moment Hari Guru Nasional ini, ia berharap kesejahteraan para tenaga honorer lebih diperhatikan lagi. Sebab revisi Undang-undang seputar Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih dalam tahap wacana, ia meminta kepada Wali Kota Cimahi untuk menerbitkan Surat Keputusan (SK).

Sebab selama ini guru honorer seperti dirinya hanya mengantongi surat tugas dari Kepala Dinas Pendidikan. SK itu sangat dibutuhkan bagi honorer yang belum memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK). "Kita tetap meminta diangkat langsung jadi PNS. Sambil nunggu kepastian UU, kita juga minta upah sesuai UMK sama SK," katanya.

Tenaga pendidik honorer lainnya, Ama Haris Hidayat (42) berharap, peringatan Hari Guru Nasional tahun ini bisa menjadi titik balik bagi para honorer untuk bisa meningkatkan kesejahteraan. "Saya ini seorang penjaga sekolah sejak tahun 2002. Intinya harapannya ada pengakuan peningkatan kesejahteraan," tuturnya.

Sama seperti Eko, awal menjadi tenaga honorer awalnya hanya Rp 50 ribu per bulan. Kemudian bertambah menjadi Rp 600 ribu ketika diberlakukannya BOS. "Allhamdulilah ada tambahan dari Pemkot Rp 350 ribu per bulan," terangnya.

Untuk menambah penghasilannya, ia pun rela 'nyambi' menjadi pedagang batagor dan cilor di tempatnya bekerja yakni di SDN Utama. "Iya disyukuri aja. Allhamduliah cukup untuk memenuhi keluarga. Saya anak ada 3," ucapnya. Sekedar informasi, tenaga honorer yang tergabung dalam Kategori 2 mencapai 90 orang. Sedangkan tenaga honorer keseluruahn di Kota Cimahi ada sekitar 2 ribu orang.