Sabtu, 4 April 2026 22:16

Pertumbuhan Kendaraan Tak Seimbang dengan Infrastruktur, Sebabkan Kemacetan di Cimahi

Kepala Dinas Perhubungan Kota Cimahi, Endang menjadi narasumber Talkshow saat Halal Bi Halal Scooter Cimahi Bersatu, di Ekowosata Cimenteng,Sabtu, 4 April 2026. [Istimewa]

Limawaktu.id, Kota Cimahi - Pemerintah Kota Cimahi menghadapi tantangan serius dalam mengatasi kemacetan lalu lintas, seiring pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk dan kendaraan yang tidak diimbangi dengan pembangunan infrastruktur jalan.

Sejak resmi berdiri pada tahun 2001, jumlah penduduk Cimahi mengalami lonjakan signifikan. Dari sekitar 300 ribu jiwa pada awal berdiri, kini populasi kota tersebut hampir menyentuh angka 600 ribu jiwa pada tahun 2026. Lonjakan ini berdampak langsung pada meningkatnya mobilitas masyarakat di berbagai sektor.

Namun, peningkatan tersebut tidak sejalan dengan pembangunan infrastruktur jalan. Hingga saat ini, total panjang jalan di Cimahi—yang mencakup jalan nasional, provinsi, kota, hingga jalan lingkungan—mencapai sekitar 308 kilometer. Dalam kurun waktu 25 tahun terakhir, penambahan jalan baru hanya sekitar 1,6 kilometer saja.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Cimahi, Endang, menjelaskan bahwa ketimpangan antara pertumbuhan kendaraan dan kapasitas jalan menjadi faktor utama kemacetan di wilayahnya.

“Kalau kita lihat, penambahan panjang jalan hanya sekitar 1 persen, sementara pertumbuhan kendaraan bisa mencapai 7 persen per tahun. Ini yang menyebabkan tekanan luar biasa terhadap kapasitas jalan di Kota Cimahi,” jelas Endang, saat Talkshow pada kegiatan Halal Bihalal Scooter Cimahi Bersatu, di Ekowisata Cimenteng, Sabtu, 4 April 2026.

“Misalnya pedagang di pinggir jalan, parkir liar, serta keluar-masuk kendaraan di pusat-pusat aktivitas. Di sepanjang Jalan Amir Mahmud, misalnya, sangat tinggi aktivitasnya sehingga berdampak pada kelancaran lalu lintas,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa faktor persimpangan atau crossing menjadi salah satu penyebab kemacetan, terutama di titik-titik perempatan yang mempertemukan arus kendaraan dari berbagai arah.

Saat ini, terdapat sekitar 10 titik kemacetan di Kota Cimahi. Salah satunya adalah Simpang Jati yang sebelumnya menjadi titik rawan kemacetan. Namun, setelah dibangun bundaran, kondisi lalu lintas di kawasan tersebut mulai menunjukkan perbaikan.

“Upaya yang kami lakukan adalah mengurangi titik crossing, salah satunya dengan pembangunan bundaran seperti di Simpang Jati. Alhamdulillah, sekarang sudah mulai terurai,” kata Endang.

Ke depan, Pemerintah Kota Cimahi terus berupaya mengurai kemacetan melalui berbagai strategi, termasuk pembangunan infrastruktur yang meminimalkan perpotongan arus kendaraan. Salah satu rencana yang tengah dikoordinasikan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat adalah penanganan ruas Jalan Kolonel Masturi di kawasan Simpang Citerureup untuk dijadikan bundaran Citeureup.

“Langkah ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi kemacetan serta meningkatkan kenyamanan dan kelancaran mobilitas masyarakat di Kota Cimahi,” pungkasnya.