Pemkot Bandung Perkuat Pariwisata di 8 Kawasan Wisata Kreatif
Limawaktu.id, Kota Bandung - Pemerintah Kota Bandung resmi memperkuat pengembangan sektor pariwisata berbasis potensi lokal melalui Kawasan Wisata Kreatif (KWK). Sebanyak delapan KWK diperkenalkan untuk mengintegrasikan potensi wisata, ekonomi kreatif, seni budaya, sejarah, hingga produk unggulan masyarakat setempat.
Delapan kawasan yang dikembangkan tersebut mencakup KWK Cigadung, KWK Braga, KWK Rajut Binong, KWK Terpadu Gedebage, KWK Literasi Cinambo, KWK Kawasan Tekstil Cigondewah, KWK Pasirkunci, dan KWK Cibaduyut.
Penceburan dan pengembangan delapan KWK ini menjadi bagian dari langkah Pemkot Bandung untuk mengangkat karakter serta potensi lokal di setiap wilayah.
KWK Cigadung: Dikembangkan dengan konsep pariwisata berbasis masyarakat serta fokus pada seni dan budaya.
KWK Braga: Memiliki karakter kuat sebagai pusat seni, sejarah, dan cagar budaya di pusat Kota Bandung.
KWK Rajut Binong: Dikenal luas sebagai sentra industri kreatif dan produk rajut lokal di kawasan Binong Jati.
KWK Terpadu Gedebage: Mengembangkan berbagai potensi kawasan secara terpadu.
KWK Literasi Cinambo: Mengangkat potensi serta aktivitas literasi masyarakat setempat.
KWK Kawasan Tekstil Cigondewah: Menjadi pusat perdagangan dan sentra produk tekstil.
KWK Pasirkunci: Berada di kawasan Ujungberung di kaki Gunung Manglayang, menyajikan panorama alam serta budaya lokal seperti kaulinan baheula.
KWK Cibaduyut: Mengandalkan kekuatan pada produk tekstil dan industri kreatif yang berkembang di masyarakat.
Selain keunikan tiap sentra, setiap kawasan juga ditopang oleh kekayaan budaya lokal, seperti produk batik serta seni tradisi khas masyarakat.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, menyampaikan bahwa pengembangan pariwisata tidak bisa hanya dibebankan pada satu perangkat daerah saja.
“Kemajuan destinasi wisata sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor agar aspek pendukung dapat berjalan optimal,” kata Adi, Senin, 28 September 2026.
Menurut Adi, perhatian terhadap infrastruktur menjadi kunci penting. Pemeliharaan jalan menuju kawasan wisata, kecukupan penerangan jalan, penataan ruang publik, hingga peminimalan masalah kemacetan lalu lintas menjadi fokus utama penunjang kelancaran pariwisata.
Sektor pariwisata terbukti menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah.
Adi mencatat, kontribusi sektor pariwisata—yang bersumber dari pajak hotel, restoran, kafe, dan hiburan—menyumbang sekitar 34 persen dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bandung setiap tahunnya.
Melalui pengembangan delapan KWK ini, Pemkot Bandung berharap kawasan tersebut tidak sekadar menjadi etalase pariwisata, melainkan mampu membuka ruang ekonomi dan wadah kreasi yang lebih luas bagi warga setempat.
Adi juga mengimbau para pelaku KWK untuk aktif memanfaatkan ruang publik dan pusat keramaian sebagai sarana promosi. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, seniman, budayawan, dan masyarakat diharapkan dapat menciptakan destinasi wisata yang berkarakter kuat sekaligus memberikan dampak ekonomi langsung