Senin, 4 Mei 2026 11:54

Meutya Hafid : Jangan Tumbalkan Akurasi Demi Syahwat Kecepatan Digital

Menkomdigi Meutya Hafid, melontarkan kritik tajam terhadap fenomena jurnalisme, saat Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026 di Jakarta, Minggu (3/5/2026),
Menkomdigi Meutya Hafid, melontarkan kritik tajam terhadap fenomena jurnalisme, saat Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026 di Jakarta, Minggu (3/5/2026), [Humas Menkomdigi]

Limawaktu.id, JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, melontarkan kritik tajam terhadap fenomena jurnalisme saat ini yang kerap terjebak dalam "pusaran arus informasi" tanpa verifikasi.

Dalam Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026 di Jakarta, Minggu (3/5/2026), ia menegaskan bahwa kecepatan distribusi informasi telah menjadi ancaman serius bagi kebenaran fakta.Meutya menyoroti bagaimana ambisi media untuk menjadi yang tercepat sering kali melangkahi etika dasar jurnalistik. Menurutnya, di era di mana semua orang berkejaran dengan algoritma, akurasi justru menjadi barang mewah yang sering ditinggalkan.

“Kecepatan tidak boleh mengalahkan akurasi. Kita membuat berita untuk manfaat banyak orang, bukan untuk mudarat,” tegas Meutya, menyindir praktik media yang lebih mengejar trafik ketimbang dampak positif bagi publik.

Bukan Sekadar Hak, Tapi Kewajiban KonstitusiMenkomdigi juga mengingatkan bahwa jurnalisme bukan sekadar bisnis konten, melainkan amanat Pasal 28 UUD 1945. Ia menegaskan bahwa hak asasi masyarakat adalah mendapatkan "informasi yang benar", bukan misinformasi yang dibalut kemasan berita.

Ia secara khusus menyoroti maraknya siaran langsung (live streaming) di media sosial yang sering kali mengabaikan filter editorial. Ia mewanti-wanti para penyampai informasi agar tidak asal bicara hanya demi mengejar momentum instan.

Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat melihat adanya tren unik. Di tengah ledakan informasi yang tidak terkendali, publik justru mulai menunjukkan tanda-tanda "lelah" terhadap media sosial dan kembali mencari pers profesional yang kredibel.

“Ada kesadaran untuk mencari berita berkualitas di tengah menikmati media sosial. Masyarakat butuh pegangan yang bisa dipercaya,” ujar Komarudin.