Kamis, 25 Juni 2020 20:43

Merintisnya Setahun Lebih, Tiba-tiba Bisnis Kerajinan Bambu di KBB Menjerit Dalam Sekejap

Yudiana Ansor (35) Seorang Pengusaha Kerajinan Berbahan Bambu. [Foto istimewa]

Bandung Barat - Usaha kerajinan berbahan dasar bambu yang digeluti Yudiana Ansor (35), warga Kampung Cijenuk, RT 04/04, Desa Cijenuk, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB) tiba-tiba hancur ketika Corona Virus Disease (Covid-19) mewabah.

Wabah tersebut membuat usahanya yang sedang berada di jalur kesuksesan kini menurun dratis. Pesanan yang biasanya deras mengalir kini berhenti total. Di sisi lain dia harus tetap mempertahankan usaha dan kehidupan keluarganya dari pandemi.

"Kalau sekarang usaha kerajinan sangat terpukul dengan adanya COVID-19. Harapan saya, semoga ada perhatian dan bantuan pemerintah daerah ataupun pusat, agar usaha kecil seperti ini tidak gulung tikar. Misalnya permodalan atau dana stimulus yang bisa digunakan supaya tetap bertahan," ungkap Yudiana, Kamis (25/6/2020)

Bisnis tersebut dikembangkan Yudiana dengan tujuan mengembangkan potensi dan sumber daya alam menjadi barang bernilai jual tinggi.

Untuk itu, ia sejak 1,5 tahun ke belakang aktivitasnya tersebut digelutinya dengan penuh ketekunan hingga memiliki kualitasnya yang tidak kalah dengan produk luar.

Produknya seperti gelas minum, termos, cangkir, tas selendang, tas anyaman, dan masih banyak lagi. Semua itu dibuat dengan hand made berdasarkan kreativitas dan imajinasinya. Ada juga produk termos air panas yang sudah jadi, dimodifikasi sedemikian rupa sehingga berbalut bambu dan ada ukirannya.

gelas minum termos cangkir tas selendang tas anyaman Yang Terbuat Dari Bambu.

"Saya belajar semua ini autodidak dan sampai sekarang juga sambil terus belajar, menggali ide-ide produk baru," ujarnya.

Di awal-awal merintis usaha, pria bersahaja ini mengaku menghadapi berbagai tantangan yang tidak mudah. Mulai dari permodalan, bahan baku, hingga persaingan dengan pemodal besar. Namun berkat kegigihan, tekad kuat, dan pantang menyerah, akhirnya produk-produknya bisa diterima pasar dan banyak dipesan oleh masyarakat.

Seperti yang sudah rutin berjalan, dipasok dan dijual di Kota Bandung hingga ke sentra-sentra wisata di daerah Lembang. Agar konsumen tidak merasa bosan, dirinya terus melakukan inovasi dan mencari kreasi-kreasi baru yang sedang menjadi tren di kalangan generasi milenial. Pasalnya selain untuk digunakan sehari-hari, produknya pun cocok untuk dijadikan souvenir.

"Ya sekarang harapannya sih mudah-mudahan ada bantuan dari pemerintah untuk pemulihan ekonomi," ujarnya.

Kepala Desa Cijenuk Anggara Sahbudin menilai, keberadaan UKM menjadi salah satu sektor yang bisa membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Ini dikarenakan multiplier effect-nya sangat banyak, dari mulai penyediaan bahan baku, proses pembuatan, hingga distribusi penjualannya. Tidak heran banyak warga yang terlibat di UKM kerajinan berbahan bambu tersebut.

"Ini adalah sektor produktif yang bisa menyerap pekerja dan mengurangi pengangguran. Sekaligus dapat mengangkat citra nama daerah sehingga bisa dikenal luas, karena produknya jadi ikon dan ciri khas," tuturnya.