Jumat, 21 Februari 2025 13:20

Mengenang Dua Dekade Longsor Sampah, Pemkot akan Bangun Leuweung Baraya

Limawaktu.id, Kota Cimahi - Ada gebrakan menarik yang diperlihatkan oleh Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira dalam menyikapi aspirasi masyarakat Kampung Adat Cireundeu RW 10 Kelurahan Leuwigajah Kecamatan Cimahi Selatan. Pasalnya pemerintah tidak pernah hadir dalam setiap Peringtatan Hari Peduli Sampah nasional (HPSN) di Kampung Cireundeu, yang diawali dengan peristiwa Longsornya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah pada 21 Februari 2005.

Mengawali hari pertama melaksanakan tugas sebagai Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia menyempatkan diri untuk menghadiri Peringatan Longsornya TPA Leuwigajah, pada Jum’at (21/2/2025).

“Saya merealisasikan apa yang menjadi aspirasi masyarakat Kampung Cireundeu jika pemerintah tidak pernah hadir dalam Peringatan Longsornya TPA Leuwigajah, karenanya saya hadir mengiikuti Peringaatan HPSN ini,” ungkap Adhitia.

Dia menjelaskan,   HPSN itu lahir setelah terjadi peristiwa longsor sampah di eks TPA Leuwigajah. Kunjungannya ke Kampung Adat Cireundeu merupakan langkah awal dirinya dalam mewujudkan konservasi di lahan eks TPA Leuwigajah. Pihaknya bakal menjadikan lokasi tersebut sebagai ruang terbuka hijau dengan menanam berbagai jenis bambu.

“Kehadiran saya disini untuk mencanangkan kawasan konservasi adat dan lingkungan. “ jelasnya.

Tak hanya akan menjadi wilayah tersebut sebagai kawasan konservasi tetapi juga akan dibuatkan monumen yang akan dibangun secara terpadu ada monumennya, ada kawasan konservasinya serta kawasan pertanian.

“Ditingkat pemerintahan kami akan bikin dulu studi kelayakan, maupun DED sehingga diharapkan pada tahun depan monumen ini bisa dibangun termasuk zona-zonanya yang penting melibatkan para budayawan yang ada di Cireundeu,” paparnya.

Adhitia juga menyebutkan, pihaknya bakal menjadikan eks TPA Leuwigajah ini sebagai ‘Leuwung Baraya’ atau Hutan Bandung Raya.LeuweungBaraya ini akan dilakukan untuk mengingatkan jika longsornya TPA Leuwigajah tersebut tidak hanya berasal dari sampah  Kota Cimahi saja, tetapi juga dari beberapa kabupaten kota di Bandung Raya.

“Longsor TPA ini merupakan patungan sampah dari Bandung Raya dan di Cimahi ini ada yang menjadi korban.Saya ingin mengingatkan kepala daerah tetangga bahwa Cimahi pernah menjadi korban dari keserakahan dalam pengelolaan sampah,” sebutnya.

Sementara itu, Yana (48) yang merupakan warga Kampung Cireundeu mengungkapkan, jika setelah longsornya TPA Leuwigajah ini warga Cireundeu terus melakukan upaya peringatan. Pihaknya berharap bekas TPA Leuwigajah ini kembali difungsikan sebagai hutan kembali.

“Awalnya tempat ini merupakan kawasan hutan karenanya harus kembali dijadikan hutan lagi, sehingga tidak ada istilah revolusi-revolusi lagi,” ungkapnya.

 Selama 20 tahun sejak longsornya TPA Leuwigajah, pemerintah hanya menjadikan 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional tetapi tidak melihat disana ada korban yang menjadi pahlawan. Baiknya dilokasi ini dibuatkan tugu atau monument sebagai bahan pelajaran bagi anak cucu jika disini terjadi longsor sampah.

“Rencana dibangunnya Leuweung Baraya semoga tdak ada halangan dan berkomitmen terus tidak hanya angina segar tapi harus terealisasi dan warga akan mendukung program beliau,” pungkasnya.