Manis dan Segarnya Budidaya Jeruk Jepang di Kab Bandung
Limawaktu.id - Budidaya jeruk dekopon ternyata manis dan segar bagi petani di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung. Sebab, peluang bisnis tani itu cukup cerah dan menjanjikan.
Awan Rukmawan, salah seorang petani jeruk menuturkan, budiaya jeruk asal Jepang di wilayahnya itu dimulai tahun 2013. Buah jeruk yang memiliki ukuran besar dan tidak memiliki biji ini relatif cocok dikembangkan di kawasan yang berada di ketinggian 1200 sampai 1400 mdpl seperti di wilayahnya.
"Saya terinspirasi melihat budidaya jeruk Dekopon di Desa Lebak Muncang 2013 lalu. Terus lihat kondisi cuaca dan tanah yang sama (di Alamendah) langsung berminat budidaya," ujarnya saat ditemui di lahan budidaya Jeruk Dekopon, Kamis (25/7/2019).
Setelah melihat budidaya jeruk dekopon itu, ia langsung membeli bibit jeruknya di Lembang, Bandung Barat yang saat itu dijual dengan harga Rp 110 ribu per bibit dan memiliki tinggi 80 cm.
Saat itu, Awan membeli bibitnya secara bertahap. Dimulai tahun 2013 dengan 300 bibit, setahun berselang 300 bibit dan tahun 2015 sebanyak 600 bibit. Jeruk itu ditanam pada luas lahan 7 hektare.
"Satu hektar itu ada 600 pohon. Satu pohon bisa berbuah 100 kilogram. Totalnya 4.200 pohon untuk 7 hektar. Masa tanam sendiri sampai panen 3 tahun," terangnya.
Hasil panen jeruk depokon, kata Awan, cukup menggembirakan. Dalam sebulan, ia dan petani lainnya bisa memanen hingga 2 ton dengan berat jeruk bervariasi dari 2 ons sampai 9 ons.
"Kelebihan jeruk Dekopon, rasa lebih enak, segar, besar dan tanpa biji," ungkapnya.
Dengan harga jual Rp 50-60 ribu perkilogram, Awan mengatakan produk jeruk Dekopon sudah dipasarkan ke Jakarta, Bali, Bandung, Kalimantan dan ke pasar modern.
Khasiat jeruk asal negeri sakura itu sangat bermanfaat sebab bisa mengobati diabetes, wasir dan obat kolesterol jika dikonsumsi rutin. Beberapa konsumen sempat datang ke lokasi lahan untuk langsung memetik sendiri jeruk Dekopon.
"Konsumen rata-rata senang dengan jeruk dekopon, kemarin kapolda sempat datang dan memesan 50 kilogram perminggu. Ada juga dari dinas dan lainnya," ungkapnya.
Saat ini, lanjut Awan, ia tengah merencanakan menyasar pasar luar negeri. Sebab, potensi bisnisnya cukup menjanjikan. Harganya menyentuh Rp 250 ribu per kilogram. Namun kendala yang dihadapi yaitu kebanyakan penyuka jeruk dekopon adalah kelas menengah ke atas karena harganya yang tinggi.