Kota Cimahi Miliki Lima Kampung Siaga Bencana
Limawaktu.id, Kota Cimahi - Wali Kota Cimahi, Ngatiyana mengapresiasi warga Kelurahan Citeureup yang telah berinisiatif membentuk Kampung Siaga Bencana sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan keselamatan bersama.
"Kesiapan masyarakat merupakan kunci utama dalam mitigasi bencana, mulai dari tahap perencanaan, tindakan saat bencana, hingga evaluasi pasca-bencana," kata Ngatiyana, saat digelarnya uji Standard Operating Procedure (SOP) Kampung Siaga Bencana (KSB) di lapangan RW 10, Kelurahan Citeureup, Kecamatan Cimahi Utara, Kamis, 30 Oktober 2025.
Menurutnya, Wilayah Cimahi termasuk daerah yang rawan terhadap berbagai jenis bencana, seperti banjir, tanah longsor, dan gempa bumi. Tak hanya itu, potensi bahaya dari Sesar Lembang yang berjarak sekitar tiga kilometer dari Kota Cimahi juga harus menjadi perhatian Karena itu, masyarakat diminta selalu waspada terhadap tanda-tanda alam yang mencurigakan, seperti retakan tanah atau pergeseran permukaan.
Pembentukan KSB Citeureup dilakukan karena wilayah tersebut terletak di antara kawasan rawan bencana akibat pengaruh Sesar Lembang. Dengan terbentuknya KSB Citeureup, kini Kota Cimahi memiliki lima KSB aktif, yakni di Kelurahan Cipageran, Padasuka, Leuwigajah, Utama, dan Kelurahan Citeureup.
Pemerintah telah menyiapkan perangkat kebencanaan di setiap kelurahan dan wilayah strategis, termasuk di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Namun, lebih dari sekadar peralatan, yang paling ditekankan adalah kesadaran dan kesiapan warga.
Kepala Dinas Sosial Kota Cimahi Totong Solehudin mengatakan, pentingnya kegiatan ini sebagai upaya membangun jejaring dan sistem yang berkelanjutan.
"Tujuan utamanya adalah meningkatkan wawasan anggota KSB, membentuk jejaring kesiapsiagaan, serta memperkuat interaksi sosial antaranggota dan masyarakat," katanya.
Semangat gotong royong, solidaritas, dan kedermawanan adalah nilai-nilai lokal yang dapat menjadi fondasi kuat dalam menghadapi bencana.
"Mereka datang tidak hanya untuk belajar, tapi juga membentuk komunitas yang saling menguatkan, sebuah cerminan bahwa ketangguhan masyarakat bukan dibentuk dalam sekejap, melainkan dibangun lewat kolaborasi dan kesadaran kolektif," paparnya.
Kampung Siaga Bencana bukan sekadar program tahunan. Ia adalah jawaban atas kebutuhan mendesak, menjadikan masyarakat bukan korban pasif, melainkan aktor utama dalam pengurangan risiko bencana.