KOHATI Harus Mampu Lahirkan Perempuan Yang Berdaulat dan Berintegritas
Limawaktu.id, Denpasar - Korps HMI-Wati (KOHATI) Cabang Denpasar memperingati Milad KOHATI ke-60 melalui kegiatan silaturahmi dan talkshow yang berlangsung di Sekretariat HMI Cabang Denpasar. Mengangkat tema “Perempuan Berdaulat: dari Kesadaran Personal menuju Kepemimpinan di Ruang Publik”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kapasitas perempuan untuk mengambil peran di ruang publik.
Kegiatan tersebut diikuti oleh kader HMI, KOHATI, serta sejumlah perwakilan organisasi yang tergabung dalam Cipayung Plus. Selain menjadi momentum memperingati perjalanan enam dekade KOHATI, kegiatan ini juga menjadi ruang bertukar gagasan mengenai posisi dan kontribusi perempuan dalam kehidupan sosial dan kepemimpinan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Umum KOHATI Cabang Denpasar, Anim Matussaadah. Dalam sambutannya, Anim menekankan pentingnya menjadikan Milad ke-60 sebagai momentum untuk memperkuat nilai dan arah gerakan KOHATI, khususnya dalam mendorong lahirnya perempuan yang memiliki kesadaran, kapasitas, dan keberanian untuk berkontribusi di masyarakat.
“Di usia KOHATI yang ke-60 ini, kami berharap KOHATI tidak hanya menjadi organisasi yang terus berjalan, tetapi menjadi organisasi yang bernilai dan mampu melahirkan perempuan-perempuan yang berdaulat dan berintegritas. Perempuan harus memiliki kesadaran atas dirinya, mampu mengembangkan kapasitas, dan berani mengambil peran di ruang publik.” —Anim Matussaadah, Ketua Umum KOHATI Cabang Denpasar, Jum’at, 18 September 2026.
Sambutan kemudian dilanjutkan oleh Ruslan, Presidium Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Bali. Dalam sambutannya, Ruslan menyoroti pentingnya keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan dan ruang publik. Menurutnya, perempuan memiliki kapasitas untuk mengambil posisi strategis dan memimpin di berbagai bidang kehidupan.
“Perempuan harus bisa memimpin. Ruang kepemimpinan bukan hanya milik laki-laki. Perempuan juga memiliki kapasitas, gagasan, dan kemampuan untuk mengambil tanggung jawab dalam kehidupan masyarakat.” Presidium MW KAHMI Bali, Ruslan.
Setelah rangkaian sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi utama berupa talkshow yang menghadirkan Yunda Fitri Nur Hidayatul Ulla, Ketua Umum KOHATI Cabang Denpasar periode 2021–2022, sebagai narasumber. Talkshow mengangkat tema “Perempuan Berdaulat: dari Kesadaran Personal menuju Kepemimpinan di Ruang Publik.”
Dalam materi yang disampaikan, Fitri mengajak peserta untuk melihat kedaulatan perempuan sebagai sebuah proses yang dimulai dari kesadaran personal. Perempuan perlu mengenali dirinya, memahami potensi yang dimiliki, serta membangun keberanian untuk menentukan pilihan dan mengambil tanggung jawab.
“Perempuan berdaulat itu dimulai dari kesadaran personal. Ketika perempuan mampu mengenali dirinya, memahami potensinya, dan berani menentukan pilihan, dari situlah kemudian lahir keberanian untuk mengambil peran di ruang publik.” Kata Fitri Nur Hidayatul Ulla.
Pembahasan kemudian berkembang pada pentingnya transformasi kesadaran personal menuju kepemimpinan di ruang publik. Kepemimpinan perempuan tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan menduduki sebuah jabatan, tetapi juga keberanian untuk menyampaikan gagasan, mengambil keputusan, serta memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
Bagi KOHATI Cabang Denpasar, tema tersebut menjadi relevan dengan semangat kaderisasi yang selama ini dilakukan. Perempuan tidak hanya didorong untuk memiliki kapasitas intelektual dan kemampuan berorganisasi, tetapi juga dipersiapkan untuk mampu membaca persoalan sosial dan mengambil peran dalam penyelesaiannya.
Peringatan Milad KOHATI ke-60 tersebut kemudian menjadi momentum untuk memperkuat kembali semangat kader perempuan agar terus bertumbuh dan mengambil bagian dalam ruang publik. Silaturahmi yang mempertemukan kader HMI, KOHATI, dan Cipayung Plus juga menjadi bagian penting dalam memperluas ruang dialog dan kolaborasi antarkelompok.
Melalui momentum enam dekade KOHATI, KOHATI Cabang Denpasar menegaskan kembali pentingnya membangun perempuan yang berdaulat, berkapasitas, dan memiliki keberanian untuk memimpin. Kesadaran personal diharapkan tidak berhenti pada proses pengembangan diri, tetapi dapat bertransformasi menjadi kontribusi dan kepemimpinan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.