Rabu, 26 Agustus 2026 7:09

Kiprah Rida RSD dari Panggung Ikonik ke Pengabdian Vokal dan Proyek Religi '345'

Pasca bubarnya Trio Vokal RSD, Sejak 2006 Rida Farida memilih untuk menyalurkan ilmunya sebagai pengajar vokal di Purwacaraka Cimahi [Istimewa]

Limawaktu.id,  Kota Cimahi - Menelusuri peta musik populer Indonesia era 90-an tanpa menyematkan nama Rida Sita Dewi (RSD) adalah sebuah ketidaklengkapan narasi sejarah. Sebagai salah satu pilar dari trio vokal legendaris tersebut, RSD bukan sekadar penyanyi yang pernah merajai tangga lagu, tetapi menyimpan nostalgia bagi penggemarnya.

Sejarah mencatat RSD sebagai fenomena grup vokal dengan harmoni yang nyaris mustahil tergantikan. Dibentuk pada 1995, kolektif ini menorehkan tinta emas selama sembilan tahun melalui trilogi album yang menjadi artefak music pop yaitu  Antara Kita ,  Datanglah , dan  Kesatu . Puncak kejayaan mereka dirangkum dengan manis dalam album kompilasi  The Best of Rida Sita Dewi , sebuah persembahan bagi para penikmat musik yang merindukan kualitas vokal murni.

Namun, kejayaan tersebut menemui titik nadirnya secara terhormat pada tahun 2004 pasca-mundurnya Dewi. Bagi Rida dan Sita, RSD bukan sekadar entitas bisnis, melainkan identitas yang terikat pada nama-nama pendirinya.

Hari ini, saat lampu sorot panggung besar tak lagi menjadi poros utamanya, salah satu personil RSD Rida Farida  justru menemukan kemapanan baru melalui pengabdian di dunia pendidikan vokal dan eksplorasi kreatif digital. Transformasi ini menunjukkan sebuah strategi eksistensi yang organic dengan memilih untuk menyeimbangkan warisan masa lalu dengan inovasi masa kini tanpa kehilangan jati diri.

“Memilih untuk tidak mencari pengganti adalah sebuah keputusan berdasar integritas, kami  enggan membangun kembali  chemistry  dan karakter vokal dari titik nol. Bagi kami , tanpa salah satu unsur nama tersebut, identitas kolektif itu telah usai,” papar Rida, kepada Limawaktu.id, Selasa, 26 Agutus 2026.

Rida berkisah, Pasca bubarnya RSD, Dia sempat memasuki masa transisi dengan merilis karya solo, berkolaborasi dengan musisi legendaris seperti Adji Soetama dan pernah duet bareng Lilo K. Namun, dia mengenang era tersebut sebagai masa di mana promosi fisik dan pembuatan video klip menuntut energi yang luar biasa besar. 

“Perjalanan itu akhirnya membawa saya kembali ke Cimahi, kota yang saya huni sejak usia satu tahun pada 1971. Karena sebagai bagian dari keluarga besar delapan bersaudara menjadi sauh yang menjaga tetap stabil secara emosional di kota ini," ujarnya.

Rida menyebut,  sejak 2006 dia  memilih untuk menyalurkan ilmunya sebagai pengajar vokal di Purwacaraka Cimahi. Baginya, mengajar adalah sebuah ritme harian yang menghidupkan.

“Saya juga mengelola kelas privat hampir setiap hari tanpa jeda libur, jadi kalau ada kesempatan libur, saya habiskan waktu untuk refreshing, “ sebut Rida.

Menariknya, Rida kini lebih memilih jalan mentorship daripada menjadi juri festival musik. Ia mengakui bahwa tugas menjuri seringkali menguras energi secara fisik dan mental karena durasi yang sangat panjang.

Meskipun sudah jarang manggung namun aktivitas bermusiknya tak pernah padam. Buktinya saat ini Rida sedang mempersiapkan Proyek '345' dan Napas Religi dalam Adaptasi Modern.

“Sekarang, saya tengah mempersiapkan proyek grup vokal baru bernama '345', sebuah formasi segar yang terdiri dari tiga perempuan dan dua laki-laki. Nama '345' sendiri dipilih dengan kesadaran gaya yang unik, melanjutkan semangat kolektivitas yang sebelumnya pernah dirintis bersama grup 'Arbaa'.Memasuki awal bulan depan, '345' dijadwalkan masuk dapur rekaman untuk menggarap materi bertema Ramadan,” sebut Rida.

Sebagai penyanyi yang melintasi dua era, Rida menyambut era keterbukaan digital dengan optimisme. Ia memandang bahwa platform streaming dan media sosial telah meruntuhkan tembok pembatas yang dulu menghambat musisi dalam berpromosi.

“Sekarang kita bisa tetap berkarya tanpa terhalang batasan usia. Selama masih mau dan berani berkreasi, banyak wadah yang tersedia," tuturnya.

Perjalanan karier Rida Farida adalah sebuah siklus kreativitas yang konsisten. Dari panggung ikonik RSD yang penuh memori, ia bermetamorfosis menjadi seorang pendidik yang menjaga standar vokal generasi mendatang, hingga kembali ke studio dengan proyek '345' dan kolaborasi modern lainnya.