Senin, 2 Desember 2019 10:14

Kasus HIV/AIDS Disebut Mengkhawatirkan, Pemkot Cimahi Minta Hindari Seks Bebas

ilustrasi-aids net [Fery Bangkit]

Limawaktu.id - Pemkot Cimahi mengajak seluruh masyarakat, khususnya remaja untuk tidak melakukan hubungan seks bebas. Sebab, prilaku seks di luar pernikahan itu rentan tersalur virus Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS).

Kepala Seksi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular pada Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Romi Abdurakhman mengatakan, pencegahan seks bebas di kalangan masyarakat itu menjadi salah satu hal tersulit mengingat sulit untuk diketahui.

"Bingung juga ngasih taunya, apalagi mau cek HIV/AIDS-nya. Tapi kita tetap minta, hindari prilaku seks bebas jangan sampai terjadi penularan," imbuhnya saat ditemui di Pemkot Cimahi, Jalan Rd. Hardjakusumah, Senin (2/12/2012).

Kasus HIV/AIDS di Kota Cimahi sendiri hingga November tahun 2019 sudah mencapai 443 orang. Namun, data itu merupakan komulatif yang dihimpun sejak tahun 2015 silam. Bahkan, dalam edisi empat tahun terakhir kasusnya diakui cukup mengkhawatirkan  mencapai 40 per tahunnya.

"Sekarang dibilang mengkhawatirkan karena kalau dirata-ratakan cimahi itu 4 tahun terakhir tiap tahun 40 penemuan orang Cimahi-nya aja," ungkapnya.

Romi menjelaskan, mayoritas penemuan kasus HIV di Kota Cimahi mayoritas didominasi oleh hubungan seks baik sesama lawan jenis maupun Lelaki Seks Lelaki (LSL) maupun lawan jenis tanpa ikatan pernikahan alias seks bebas. "Kalau (dari) Napza berkurang, dominan penularan dari seksual," ucapnya.

Untuk itu, lanjut Romi, pihaknya saat ini akan fokus pada pencegahan. Pertama, terang dia, pihaknya tetap mengupayakan agar ibu hamil bisa dicek difasilitas kesehatan di Kota Cimahi. Tujuannya, untuk mencegah penyakit itu menular kepada bayi jika sang ibu ternyata mengidap HIV/AIDS.

"Kalau ada ketahuan hepatitis B nanti dicegah penularan ke bayinya, kalau HIV dicegah asal ikutan programnya pencegahan," terangnya. Kemudian yang jadi perhatian adalah penanganan pencegahan HIV/Aids dari hubungan seksual. Khusus untuk LSL atau transgender, kata Romi, agak mudah dilakukan penyuluhan sebab mereka memiliki kelompok atau organisasi.

Terpisah, Wakil Wali Kota Cimahi, Ngatiyana melanjutkan, pencegahan dan pemberantasan HIV/AIDS bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, tetapi merupakan tugas bersama seluruh komponen masyarakat. Tugas bersamanya adalah bagaimana menyosialisasikan kepada masyarakat seputar HIV/AIDS.

Cara yang bisa dilakukan secara teratur untuk mengendalikan HIV/AIDS adalah dengan meminum Anti Retro Viral (ARV). Jenis obat tersebut bisa untuk memperlambat perkembangan virus HIV. "Minimal kita pencegahan jangan sampai ada yang terkena lagi. Kita sosialisasikan bahayanya penyakit HIV/AIDS," imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Ngatiyana juga meminta masyarakat tidak diskriminasi terhadap masyarakat yang positif terkena HIV/AIDS. Tetapi justru diberikan dukungan agar tetap memiliki harapan hidup. "Tidak boleh dikucilkan, tidak boleh dimarjinalkan. Harus tetap kita dekati sehingga tetap punya semangat dan harapan," tandasnya.