Jumat, 21 Agustus 2020 11:05

Kampung Adat Cireundeu Dinilai Bisa Jadi Contoh Toleransi Beragama

Peneliti Puslitbang LKKMO Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, serta Pengurus Yayasan Dewi Rahmasari Education and Care, berfoto bersama usai penyerahan Piagam Penghargaan di Kampung Adat Cireundeu [Foto Istimewa]

Kota Cimahi - Toleransi Beragama dan Pelestarian Kampung Adat Cireundeu dinilai bisa menjadi contoh bagi masyarakat Indonesia dan Internasional dalam kehidupan sehari-hari.

Hal itu mengemuka saat pemaparan hasil pelaksanaan penelitian akhir terhadap Moderasi Beragama di Kampung Adat Cireundeu yang dilakukan oleh Novita Siswayanty MA, seorang Peneliti Puslitbang LKKMO  Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Bekerjasama dengan Yayasan Dewi Rahmasari Education and Care, yang di pimpin oleh R. Dewi Rahmasari, S.S., MA.

Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan pemberian penghargaan, yang bertepatan dengan acara Selamatan Satu Suro yang merupakan Hari Raya bagi Masyarakat Kampung Adat Cireundeu yang 40 persen dari mereka menganut ajaran Kepercayaan Sunda Wiwitan

Dewi Rahmasari S.S MA , Ketua Yayasan Dewi Rahmasari Education and Care mengaku sangat senang membantu penelitian ini untuk menjadi contoh baik mengenai toleransi beragama dan pelestarian adat budaya Masyarakat Sunda Wiwitan, dan juga peran mereka dalam ketahanan pangan dimasa pandemi virus corona yang bisa dicontoh masyarakat Indonesia.

“Hal ini bisa menjadi contoh bagi masyarakat, karena singkong lebih terjangkau harganya, lebih tahan lama energi yang didapatkan untuk melakukan berbagai aktifitas dan dapat menurunkan berat badan,” ungkap Dewi, Jum’at (21/8).

Dia menyebutkan, pihaknya telah diberikan keleluasaan dalam meneliti bersama beberapa anggotanya yaitu Heru Wibowo S.Si , Surya Nugraha, S.Pd, S.Pd dan Rudy Hartono S.Pd. Dewi pun sangat mengagumi keramahan, dan sifat ramah tamah Masyarakat Kampung Cireundeu baik yang beragama Islam yang berjumlah sekitar 60 persen dan juga Masyarakat Cireundeu yang menganut Kepercayaan Sunda Wiwitan yang berjumlah 40 persen (22 KK).

Sementara, Abah Widi selaku salah seorang sesepuh kampung Cireundeu memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada para peneliti dari Puslitbang Kementrian Agama dan yayasan Dewi Rahma Sari - Education Care dengan cara pemberian tumpeng rasi (nasi yang berbahan dasar ampas singkong) kepada para peneliti.

Tumpeng rasi ini, kata Widi mengandung beberapa  filososi, diantaranya bentuk rasi yang kerucut menandakan ujung atau akhir dari semua yang dilakukan manusia adalah Gusti Allah atau mengEsakan Tuhan sedangkan dasar tumpeng yang dipenuhi dengan berbagai jenis makanan yang sangat enak adalah dunia dan perhiasannya yang merupakan berbagai fasilitas yang bila 'jalma' (manusia) yang memakannya sudah berhati bersih maka dia akan dapat mempergunakan segala bentuk fasilitas dunia sebagai kendaraan untuk menuju ketauhidan terhadap Gusti Allah (Sang Pencipta Alam Sekitarnya).

“Manusia yang telah mendapat tujuan dari philosophi tumpeng tersebut disebut 'Manusa' yang berarti manusia yang telah sempurna melaksanakan ajaran - ajaran sunda wiwitan sehingga bisa mengenal jati dirinya, karena siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya,” jelas Widi.

Dalam Kesempatan yang sama Novita Siswayanty, MA. sangat berbahagia karena kemudahannya dalam berinteraksi dengan masyarakat Kampung Cireundeu sehingga tujuan dari penelitiannya bisa dengan mudah tercapai.

“Saya sangat berharap untuk kedepannya bisa terus menjalin silaturahim dengan Masyarakat Cireundeu dan dapat memberikan informasi Toleransi beragama, Pariwisata juga ketahanan pangan dan wisata kuliner dari Masyarakat Kampung Cireundeu Sunda Wiwitan dengan benar kepada Masyarakat nasional dan internasional,” pungkasnya.