Ini Kiat Zaenal Arief soal Pembinaan Bakat Menuju Jenjang Profesional
Limawaktu.id, Bandung - Pembinaan atlet muda menuju jenjang profesional memerlukan lebih dari sekadar pengasahan teknik di lapangan. Mantan pemain timnas Indonesia, Zaenal Arief, menekankan bahwa kunci keberhasilan pembinaan terletak pada sinergi yang harmonis antara orang tua dan anak, terutama saat menghadapi atmosfer kompetisi,.
Menurut Zaenal, para orang tua untuk bersikap bijak dalam menghadapi kompetisi anak.Kkompetisi pada level usia dini seharusnya menjadi fase yang menyenangkan (fun) dan menjunjung tinggi nilai kejujuran atau fair play.
Ia memberikan peringatan keras terkait ambisi orang tua yang terkadang melampaui batas.
"Jangan (sampai) ambisi berlebihan, karena biasanya kalau ambisi tersebut terlalu over, anak bisa layu sebelum berkembang," ungkapnya, saat menghadiri Turnamen Sepakbola Usia Dini yang digelar Javacons Soccer School, di Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Minggu, 21 Juni 2026.
Ia menekankan bahwa tekanan yang berlebihan dari pihak luar, termasuk orang tua, justru dapat menghambat potensi alami sang anak.
Pembagian Peran dan Menjaga Sinergitas
Zaenal menjelaskan bahwa harus ada pembagian peran yang jelas atau "job desk" antara orang tua dan anak. Anak harus diberikan keleluasaan untuk mengeksplorasi kemampuannya di lapangan, sementara orang tua berperan penting dalam menjaga kondisi psikologis anak,
Peran orang tua sangat krusial, terutama saat anak sedang menikmati permainan maupun saat mereka berada di bawah tekanan kompetisi. Sinergitas ini harus tetap terjaga agar proses perkembangan anak tidak terganggu oleh ambisi pribadi orang tua.
Mengedepankan Proses di Atas Hasil Akhir
Lebih lanjut, Zaenal Arief mengajak semua pihak untuk mengubah paradigma dalam melihat kompetisi. Baginya, indikator keberhasilan tidak boleh hanya dilihat dari siapa yang mengangkat piala di akhir turnamen.
"Bukan dilihat dari siapa yang jadi juara, tapi siapa yang berproses dengan baik," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa proses yang baik ini merupakan hasil kerja keras kolektif yang melibatkan orang tua, pelatih, hingga para pemain itu sendiri. Jika proses tersebut dijalankan dengan benar, maka pada hakikatnya semua anak yang terlibat adalah pemenang.
Diharapkan dengan pola pembinaan yang sehat dan sinergis ini, talenta-talenta muda Indonesia dapat berkembang secara optimal tanpa kehilangan kegembiraan mereka dalam bermain,
Seperti kita ketahui, Zaenal Arief atau Abo adalah seorang mantan pemain sepak bola Indonesia dan berposisi sebagai penyerang. Pada Piala Asia 2007 yang lalu, ia menjadi cadangan striker untuk Tim nasional sepak bola Indonesia.
Zaenal memulai karier sebagai sepak bola bersama klub kota kelahirannya, Persigar. Ia memulai debut di tim utama ketika ia masih berusia 16 tahun. Zaenal bertahan di Persigar selama satu musim.
Pada musim 1998, Zaenal pindah ke klub Kota Bandung, Persib Bandung, setelah bergabung sebelumnya di klub internal Persib, UNI. Selama disini, ia jarang mendapat jatah bermain karena kalah bersaing dengan pemain-pemain senior Persib yang lain. Ia pun hanya bertahan selama dua musim hingga musim 1999.
Pada musim 2000, Ia dikontrak oleh Persita Tangerang. Di klub ini lah ia mulai mendapat jatah bermain, Ia memulai debut sebagai pemain utama di usianya yang menginjak 20 tahun. Pada tahun 2006, ketika berusia 25 tahun, Ia mendapat panggilan untuk bermain dengan Timnas Indonesia. Zaenal, yang kini sudah berlabel pemain Timnas, mulai diminati oleh banyak klub. Ia bertahan di Persita hingga pertengahan musim 2006.
Dengan statusnya sebagai pemain Timnas, Persib berminat untuk menarik nya kembali. Pada pertengahan musim 2006, Zaenal pindah ke Persib. Di musim pertamanya bersama Persib, Ia berhasil menyelamatkan klub kota Bandung ini dari ancaman degradasi setelah lolos di babak play-off. Di musim 2006, Ia menjadi bagian dari tim utama secara rutin.