Industri Kreatif Harus Membuka Ruang Setara Bagi Semua Orang
Limawaktu.id, Kota Bandung – Dosen DKV Nusa Putra University Agus Permana menekankan, industri kreatif, termasuk film dan broadcasting, harus membuka ruang yang setara bagi semua orang.
“Penyandang disabilitas tidak semestinya selalu diposisikan sebagai objek cerita semata, tetapi juga sebagai subjek kreatif yang memiliki gagasan, perspektif, dan kemampuan berkarya,” ungkap Agus, saat Edukasi Publik bertajuk “Ngabuburit Bareng FOKUS #3” dengan tema Menuju Sinema Inklusif, Praktik Produksi Film dan Broadcasting yang Ramah Disabilitas, digelar Perkumpulan Pendidik Broadcasting dan Film (Perdibriofi) Jawa Barat, di Bandung, Rabu, 11 Maret 2026.
Menurut Agus, praktik produksi yang ramah disabilitas dapat diwujudkan melalui berbagai pendekatan, seperti penyediaan aksesibilitas di lokasi produksi, penggunaan teknologi pendukung, hingga membuka kesempatan kolaborasi bagi kreator difabel dalam berbagai posisi produksi.
Diskusi berlangsung interaktif dengan banyak pertanyaan dari peserta. Antusiasme terlihat dari partisipasi aktif mahasiswa dan akademisi yang tertarik mengembangkan pendekatan inklusif dalam karya sinematografi.
Moderator kegiatan, Dr. Firdaus Azwar Ersyad, mengatakan bahwa forum diskusi semacam ini penting untuk membangun kesadaran kolektif di kalangan akademik.
“Dunia pendidikan memiliki tanggung jawab besar untuk mengubah cara pandang terhadap disabilitas, dari sekadar objek penelitian menjadi subjek yang terlibat aktif dalam proses kreatif,” katanya.
Menurutnya, pendekatan sinema inklusif juga menjadi peluang bagi dunia akademik untuk melahirkan karya-karya film yang lebih beragam dan representatif.
Program Ngabuburit Bareng FOKUS sendiri merupakan kelas edukasi publik yang rutin diselenggarakan Perdibrofi Jawa Barat setiap satu bulan sekali. Selain memperkaya wawasan akademik, kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi santai namun bermakna bagi para pelaku dan pemerhati industri film dan broadcasting.
Dia menjelaskan, upaya mendorong ruang kreatif yang inklusif bagi penyandang disabilitas perlu terus digalakkan di dunia perfilman dan broadcasting.
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini diikuti sekitar 85 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, akademisi, praktisi film, guru broadcast dan film serta pemerhati isu disabilitas.
Dalam diskusi tersebut, para peserta diajak memahami pentingnya membangun ekosistem produksi film dan penyiaran yang inklusif, khususnya bagi penyandang disabilitas.
Panitia berharap kegiatan ini dapat mendorong semakin banyak institusi pendidikan dan komunitas kreatif untuk memberikan perhatian serius terhadap isu aksesibilitas dan partisipasi penyandang disabilitas dalam industri kreatif.
Dengan semakin terbukanya ruang kolaborasi, diharapkan penyandang disabilitas tidak hanya hadir sebagai representasi di layar, tetapi juga sebagai pencipta karya dalam ekosistem sinema Indonesia.