Hijaukan Mandalika, AHTRMI dan Pesantren Haramain Siap Tanam 50.000 Pohon
Limawaktu.id, MANDALIKA — Rapat persiapan untuk mendukung Gerakan Penanaman 5.000 Pohon di kawasan Sirkuit Mandalika, Lombok, resmi digelar . Aksi penghijauan skala besar ini dijadwalkan berlangsung pada 5 Desember 2026 mendatang. Acara tersebut rencananya dihadiri oleh Kementerian Kehutanan, serta diharapkan dapat dibuka atau dihadiri langsung oleh Presiden RI atau Wakil Presiden RI
Ketua Umum Badan Dapur Nasional yang juga Ketua Umum Asosiasi Hutan Tanaman Rakyat Mandiri (AHTRMI) , Basayaruddin Siregar mengungkapkan, Gerakan kolaboratif ini diselenggarakan atas kerja sama antara Asosiasi Hutan Tanaman Rakyat Mandiri Indonesia (ATHRMI), Badan Dapur Nasional (BDN) , dan Pondok Pesantren Haramain
“Untuk memobilisasi aksi di lapangan, sekitar 3.000 santri dari Pondok Pesantren Haramain yang berlokasi di Kabupaten Lombok Barat akan diterjunkan bersama masyarakat setempat dan anggota Asosiasi,” ungkap Basyaruddin dalam siaran pers yang diterima Limawaktu.id, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Basyaruddin menjelaskan, penanaman ribuan pohon ini ditargetkan untuk menghijaukan seluruh area Sirkuit Mandalika sekaligus merehabilitasi gunung-gunung yang gundul di wilayah sekitarnya. Gerakan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari ketahanan pangan dan ekologi jangka panjang.
"Badan Dapur Nasional melihat ini sebagai investasi masa depan. Kita tidak bisa bicara ketahanan pangan atau 'dapur' yang sehat jika lingkungan di sekitarnya rusak. Kolaborasi ini membuktikan bahwa kehutanan dan pangan memiliki satu napas. Kami mendukung penuh agar Mandalika tidak hanya hijau di kulit, tapi juga subur di akar, mendukung ekosistem yang pada akhirnya menyejahterakan rakyat," jelas Basyaruddin.
Basyaruddin mengatakan, Dari sisi teknis, Pengurus Asosiasi Hutan Tanaman Rakyat Mandiri Indonesia (AHTRMI) memastikan bahwa spesies pohon yang akan ditanam telah melalui kajian ilmiah. Pohon-pohon yang dipilih adalah jenis endemik dan cepat tumbuh yang mampu mengikat tanah serta menyimpan cadangan air, krusial untuk mencegah longsor dan kekeringan di kawasan wisata tersebut.
"Kami dari AHTRMI telah memetakan area kritis. Fokus kami adalah rehabilitasi lahan kritis di perbukitan Mandalika. Kami tidak hanya menanam, tapi kami menyiapkan sistem pemeliharaan berbasis masyarakat agar tingkat hidup pohon bisa di atas 90%. Ini adalah percontohan hutan rakyat modern yang mendukung kawasan strategis nasional," katanya.
Diketahui, Asosiasi Hutan Tanaman Rakyat Mandiri Indonesia (AHTRMI) adalah wadah organisasi dan komunikasi bagi para petani hutan, kelompok masyarakat, serta pelaku usaha yang mengelola Hutan Tanaman Rakyat (HTR) secara mandiri di berbagai wilayah Indonesia. Organisasi ini dibentuk untuk mendukung program Perhutanan Sosial pemerintah dalam memberdayakan ekonomi masyarakat disekitar kawasan hutan sekaligus menjaga fungsi kelestarian lingkungan hidup.
Sementara Badan Dapur Nasional adalah an Badan Dapur Nasional (BDN), sebuah organisasi indpenden yang dibentuk oleh masyarakat Indonesia dan diketuai Basyaruddin Siregar. Kehadiran BDN adalah untuk mendukung keberhasilan program MBG melalui pengawasan, pembinaan, dan pendampingan kepada pengelola dapur MBG di seluruh Indonesia.
“BDN menjadi organisasi pelopor dalam memastikan dapur MBG berjalan sesuai standar kualitas, higienitas, dan tata kelola yang profesional,” ujarnya.
Menurutnya, BDN berkomitmen mendukung program yang dijalankan Badan Gizi Nasional sebagai bagian dari upaya mewujudkan visi Indonesia Emas.
“BDN merupakan organisasi terdepan dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat secara nasional, melalui pengawasan serta pendampingan kepada pengelola dapur MBG yang tersebar di seluruh Indonesia,” ujar Basyaruddin.
Ia menjelaskan, BDN memiliki sejumlah fokus utama dalam mendukung keberhasilan program MBG. Salah satunya ialah mendorong pembangunan dapur MBG yang berkualitas dan sesuai dengan ketentuan serta standar yang telah ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional.
Selain itu, BDN juga berupaya memberdayakan seluruh potensi sumber daya alam, khususnya di sektor pertanian dan bidang lainnya, agar mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Program ini tidak hanya berbicara soal pemenuhan gizi, tetapi juga bagaimana memberdayakan potensi lokal serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.