Film Kompi Daeng di Launching 19 Agustus 2025
Limawaktu.id, Kota Cimahi – Warga Kota Cimahi bakal segera menyaksikan sebuah karya epik lokal tentang perjuangan KOMPI DAENG, (Daeng Muhammad Ardiwinata) , yaitu film yang mengangkat semangat juang dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di kota Cimahi dan Bandung Raya di Masa Bersiap / De Militaire Stad.
Film layar lebar yang terinspirasi dari buku 'Prahara Cimahi' (Pelaku & Peristiwa, 30 Okt 1945 - 28 Maret 1946) karya : Mayor CHB SM Arief, yang disutadarai Dede Syarif Hd, bakal di launching pada 19 Agustus 2025, pukul 09.00 WIB, di Gedung Cimahi Technopark, Jalan Baros Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.
“Film Kompi Daeng merupakan produksi Visi Sinema Pro & Ice Blue Production, didukung Dewan Kebudayaan Kota Cimahi, yang akan menjadi simbol kebangkitan perfilman daerah yang membanggakan. Launching akan dimeriahkan oleh Meet and Greet pemain & kru, Talkshow eksklusif dan Photobooth bernuansa militer,” sebut Sutradara Film Kompi Daeng Dede Syarif, Minggu, 10 Agustus 2025.
Menurut Dede setelah dilakukan launching Film Kompi Daeng akan tayang Perdana pada pukul 14.00 sampai 15. 00 untuk sesi pertama, Pukul 15.15 - 16.15 ( sesi 2 ) dan Pukul 16.30 - 17.30 ( sesi 3 ).
Film Kompi Daeng merupakan sejarah para pahlawan asal Cimahi yang ikut andil dalam sejarah perjuangan perang kemerdekaan yang berujung pada terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api. Nama-nama pahlawan tersebut saat ini diabadikan sebagai nama jalan di Kota Cimahi. Sebut saja Daeng Ardiwinata, yang digunakan sebagai nama jalan dikawasan Cihanjuang.
Perjuangan Daeng tersebut dikenal sebagai Kompi Daeng, salah seorang pejuang Cimahi yang memperjuangkan Cimahi dari serangan Sekutu – NICA Belanda periode 1945 – 1946. Peristiwa tersebut tertuang dalam Buku ‘Prahara Cimahi’ , yang ditulis oleh Almarhum Mayor CHB S.M Arief, warga Margaluyu Kelurahan Cimahi Kecamatan Cimahi Tengah Kota Cimahi.
“Saat itu tahun 1945 hingga 1946 terjadi pertempuran habis habisan dari pasukan Daeng, Hisbullah, Usman Dhomiri dan pasukan pasukan lainnya berjibaku dalam waktu dua tahun. Dan saat itu masyarakat Cimahi harus meninggalkan kotanya, mereka harus pergi, harus meninggalkan kota karena tidak kuat melawan sekutu yang begitu besar, senjatanya begitu banyak, jadi para pejuang Cimahi tersebut ikut andil dalam peristiwa Bandung Lautan Api,” ungkapnya.