Farhan: Reaktivasi Bandara Husein Momentum Kebangkitan Ekonomi
Limawaktu.id, Kota Bandung - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan memastikan pemerintah pusat mulai serius menghidupkan kembali Bandara Husein Sastranegara setelah Presiden RI, Prabowo Subianto memberikan instruksi langsung terkait reaktivasi bandara tersebut usai kunjungan kerjanya ke Kota Bandung pada 25 Mei 2026 lalu.
Instruksi itu dinilai menjadi angin segar bagi Kota Bandung yang selama hampir tiga tahun kehilangan salah satu denyut utama pergerakan ekonomi dan pariwisata setelah sebagian besar penerbangan komersial dipindahkan ke Bandara Internasional Kertajati.
Farhan mengungkapkan, Presiden meminta agar reaktivasi Bandara Husein dilakukan bersamaan dengan pengaktifan kembali Bandara Adi Sucipto di Yogyakarta sebagai bagian dari strategi memperkuat konektivitas dan pertumbuhan ekonomi daerah.
“Setelah Presiden berkunjung ke Kota Bandung, sore harinya saya mendapatkan kabar bahwa Presiden memberikan instruksi agar reaktivasi Bandara Husein dilakukan bersama-sama dengan Bandara Adi Sucipto,” kata Farhan, Kamis (28/5/2026).
Menurut Farhan, selama ini Bandara Husein sejatinya tidak pernah benar-benar berhenti beroperasi. Namun aktivitas penerbangan dibatasi hanya untuk penerbangan berjadwal menggunakan pesawat baling-baling dengan rute antarkota di Pulau Jawa.
Kondisi tersebut membuat aktivitas ekonomi di sekitar kawasan bandara ikut melambat. Padahal sebelum pembatasan penerbangan, Bandara Husein menjadi salah satu pintu masuk utama wisatawan dan pelaku bisnis ke Kota Bandung.
Data tahun 2019 menunjukkan jumlah penumpang Bandara Husein mencapai sekitar 3,8 juta orang, terdiri atas 3 juta penumpang domestik dan 800 ribu penumpang internasional.
“Kita ingin mengembalikan kejayaan Bandara Husein dan pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung,” ujarnya.
Reaktivasi Bandara Husein dipandang bukan sekadar membuka kembali jalur penerbangan, tetapi juga upaya menghidupkan kembali ekosistem ekonomi perkotaan yang selama ini terdampak. Sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga UMKM disebut menjadi pihak yang paling merasakan efek penurunan aktivitas bandara.
Sebagai langkah awal, Pemerintah Kota Bandung menyiapkan pembenahan infrastruktur penunjang, terutama akses menuju kawasan bandara. Salah satu fokus utama yakni memperbaiki jalur keluar-masuk dari arah Tol Pasteur melalui kawasan PT Dirgantara Indonesia dan kompleks TNI AU.
Farhan menilai penyelesaian Jalan Layang Nurtanio menjadi momentum penting untuk mengurai kemacetan sekaligus mempercepat konektivitas menuju Bandara Husein dari kawasan timur maupun barat Bandung.
Di tengah rencana reaktivasi tersebut, Farhan menegaskan keberadaan Kertajati tetap menjadi domain pemerintah pusat karena statusnya sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Ia menilai pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan menentukan arah pengembangan Kertajati, termasuk wacana menjadikannya pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) pesawat.
Farhan juga mengungkapkan proses kajian reaktivasi kini tengah disusun oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional bersama pemerintah pusat. Kajian itu mencakup pembagian skema investasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, hingga pemerintah kota.
“Mudah-mudahan tahun ini mulai dihitung oleh Bappenas. Termasuk nanti menentukan sumber pembiayaan dan porsi investasi masing-masing,” katanya.
Ia menambahkan, opsi penggunaan pinjaman luar negeri untuk pengembangan Bandara Husein juga mulai dibahas karena sebagian besar postur anggaran 2026 telah berjalan.
“Siapapun yang menggunakan pembiayaan itu nantinya berkewajiban untuk mengembalikannya. Jadi semua harus dihitung secara matang,” tutur Farhan.