Senin, 27 April 2026 10:18

Dedi Mulyadi Respons Santai Kritik Bobotoh, Ajak Fokus Dukung Persib

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi [Istimewa]

Limawaktu.id – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menunjukkan sikap terbuka terhadap kritik publik di tengah polemik yang melibatkan Persib Bandung. Ia menegaskan komitmennya pada transparansi sekaligus menjaga profesionalisme dalam dunia sepak bola.

Sorotan muncul saat laga Persib kontra Arema FC di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Jumat (24/4/2026). Dalam pertandingan tersebut, bentangan spanduk bertuliskan “Shut Up KDM” oleh bobotoh viral di media sosial dan memicu beragam respons.

Menanggapi hal itu, Dedi tidak bersikap defensif. Ia justru mengapresiasi kritik tersebut sebagai pengingat agar tidak berlebihan dalam mengomentari urusan klub.

“Terima kasih sudah diingatkan,” ujarnya, Minggu (26/4/2026).

Menurut Dedi, pesan dari bobotoh mencerminkan niat menjaga profesionalisme sepak bola agar tidak tercampur dengan kepentingan lain, termasuk politik. Ia menilai kritik publik merupakan bagian penting dalam menjaga batas antara peran pejabat dan ranah olahraga.

Ia pun mengajak bobotoh untuk mengalihkan energi pada dukungan nyata bagi tim, terutama menghadapi lima laga krusial ke depan, daripada terjebak dalam perdebatan di media sosial.

Selain itu, Dedi juga menanggapi polemik terkait bonus bagi pemain Persib yang dijanjikan oleh Maruarar Sirait. Ia menjelaskan, komitmen bonus Rp1 miliar per laga tandang muncul dalam pertemuan antara dirinya, Maruarar, dan manajemen Persib saat membahas target ambisius meraih tiga gelar beruntun.

Dari tujuh laga tandang, lima pertandingan direncanakan mendapat bonus masing-masing Rp1 miliar, sehingga total mencapai Rp5 miliar. Dedi memastikan, sebelum informasi itu disampaikan ke publik, pihaknya telah berkoordinasi dengan manajemen untuk memastikan tidak ada pelanggaran aturan.

Ia menegaskan, keterbukaan informasi menjadi prinsip utama dalam menyampaikan hal tersebut ke publik, meskipun awalnya tidak direncanakan untuk diumumkan.

“Saya menjunjung tinggi transparansi,” tegasnya.

Dedi menempatkan dirinya sebagai fasilitator yang memastikan dukungan terhadap klub berjalan sesuai aturan dan diketahui publik, tanpa mencampuri aspek teknis profesional tim.

Di tengah polemik yang berkembang, ia kembali menegaskan bahwa kritik merupakan bagian dari kontrol publik. Namun, fokus utama tetap pada prestasi tim di lapangan.

Ia pun mengajak bobotoh untuk bersatu mendukung Persib dalam momen penentuan musim ini, alih-alih memperpanjang perdebatan di ruang digital.

Sikap tersebut dinilai mampu meredam tensi sekaligus menunjukkan komitmen pada tata kelola yang transparan dan penghormatan terhadap profesionalisme sepak bola—dua hal yang menjadi fondasi penting bagi kepercayaan publik.