Minggu, 3 Mei 2026 19:56

Dari Cimahi ke Panggung Nasional, Yura Yunita Merawat Luka Lewat Nada

Yura Yunita, penyanyi Indonesia [instagram]

Limawaktu.id, CIMAHI — Di tengah riuh industri musik yang kerap mengejar tren, Yura Yunita justru memilih jalur yang lebih sunyi yaitu jujur pada rasa. Dari wilayah Cimahi–Bandung Raya, ia tumbuh bukan sekadar sebagai penyanyi, melainkan sebagai penutur emosi yang menjadikan musik sebagai ruang pemulihan.

Perjalanan Yura tidak dimulai dari gemerlap panggung besar. Ia menapaki proses panjang—dari latihan piano sejak kecil, menulis lagu di kamar, hingga menghadapi berbagai penolakan di awal karier. Namun, konsistensi dan kepekaan artistiknya mempertemukannya dengan Glenn Fredly, sosok yang kemudian menjadi mentor sekaligus kolaborator penting dalam perjalanan musiknya.

Lagu “Cinta dan Rahasia” menjadi titik balik. Sejak itu, Yura tak hanya dikenal sebagai penyanyi bersuara khas, tetapi juga penulis lagu dengan kedalaman makna. Ia menghadirkan karya-karya yang tidak sekadar enak didengar, tetapi juga mengajak pendengarnya berdialog dengan diri sendiri.

“Musik bukan cuma tentang enak didengar, tapi tentang kejujuran. Ketika kita jujur, pendengar akan menemukan dirinya di dalam lagu itu, ” ungkap pemilik nama Yunita Rachman ini.

Album Merakit menjadi penanda fase baru: lebih dewasa, lebih berani membuka luka. Lagu “Harus Bahagia” bahkan lahir dari pengalaman personal yang getir, namun disampaikan dengan cara yang menguatkan. Sementara dalam Tutur Batin, Yura semakin jauh menyelami sisi terdalam manusia, tentang penerimaan, kesehatan mental, hingga keberanian mencintai diri sendiri.

“Perjalanan menerima diri sendiri itu panjang, tapi dari situ justru lahir karya yang paling tulus. Aku tidak ingin sekadar terkenal, aku ingin lagu-laguku punya makna dan menemani orang di momen penting hidup mereka,” kata Yura.

Di atas panggung, Yura bukan hanya tampil, ia bercerita. Setiap lagu dibawakan dengan narasi yang hidup, membuat konsernya terasa seperti ruang terapi kolektif. Penonton tidak hanya datang untuk menikmati musik, tetapi juga untuk merasa dipahami.

Kiprah Yura Yunita menunjukkan bahwa industri musik masih memberi ruang bagi kejujuran. Ia membuktikan bahwa menjadi relevan tidak harus kehilangan jati diri. Dari Cimahi, Yura membawa suara yang pelan namun dalam suara yang tidak memekakkan telinga, tetapi menetap lama di hati.