Dari 151 Septik Tank Komunal Terbangun di Cimahi, 25 Persen Tak Berfungsi
Limawaktu.id, Kota Cimahi - Perbaikan kualitas air sungai di Kota Cimahi yang diklasifikasikan terburuk se Jawa Barat tampaknya masih agak sulit dilakukan perbaikan. Pasalnya, masih banyak warga yang tidak memiliki Tangki Septik, dan membuang limbah domestiknya ke sungai, serta puluhan Saluran Pengolahan Air Limbah Domestik (SPALD) yang tidak berfungsi karena berbagai sebab.
"Dari 136 SPALD yang dikelola oleh masyarakat, sedikitnya ada 34 atau 25 persennya tidak berfungsi karena berbagai sebab," terang Ketua Asosiasi KSM Pengelola Sanitasi (Aksansi) Kota Cimahi, Agus Ruhiyat, saat dihubungi Limawaktu.id, Jum'at, 10 Oktober 2025.
Menurut Agus, akibat tidak berfungsinya Tangki Septik tersebut, warga kembali lagi membuang limbah domestiknya ke sungai.
"Ya karena tidak berfungsi akhirnya warga kembali lagi membuang limbahnya ke sungai," katanya.
Dia menjelaskan, setelah dilakukan pembangunan SPALD di 136 titik, Pemerintah Kota Cimahi melakukan serah terima kepada Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).
Namun ditengah perjalanan, KSM yang sifatnya sebagai relawan ada yang mengundurkan diri sehingga pengelolaan SPALD jadi kurang optimal.
"Selain karena adanya relawan atau KSM yang mengundurkan diri, ada juga SPALD di wilayah yang tidak dibentuk kepengurusan Kelompok Pengguna dan Pengelola (KPP)nya, sehingga SPALD jadi tidak ada yang merawat," paparnya.
Dia menjelaskan, relawan yang melakukan pengelolaan SPALD berbasis masyarakat tersebut melakukan ativitasnya mengandalkan dari hasil iuran warga yang menjadi pengguna, besaran iuran ditetapkan sesuai dengan kesepakatan antara KPP dengan warga penerima manfaat.
"Jadi kami hanya mengandalkan dari iuran warga yang menerima manfaat SPALD yang dibangun, tidak ada insentif yang diberikan oleh pemerintah," jelas Agus.
Namun, dalam pelaksanaannya masih ada juga warga penerima manfaat yang merasa keberatan dengan iuran yang dibebankan tersebut, sehingga ini berpengaruh terhadap pemeliharaan yang dilakukan oleh KSM sebagai relawan.
Agus menuturkan, belum lama ini Aksansi telah melakukan pendataan kondisi SPALD di 136 titik se Kota Cimahi, sesuai dengan permintaan dari DPKP.
"Hasil pendataan yang kami lakukan sudah dilaporkan kepada DPKP untuk ditindaklanjuti. Termasuk soal pemeliharaan SPALD yang kondisinya rusak berat, agar pemerintah bisa mengalokasikan anggaran perbaikan SPALD yang mengalami kerusakan, sayang kalau idak dilakukan pemeliharaan, karena untuk membangun SPALD tersebut sudah menelan anggaran Miliaran Rupiah, " tuturnya.
Kepala UPTD SPALD Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Cimahi Fitria Ivadanti membenarkan jika di Kota Cimahi ada 151 SPALD yang sudah terbangun baik yang anggarannya dari Dana Alokasi Khusus (DAK) maupun bantuan dari Australia.
"Dari 151 SPALD yang telah terbangun, 15 diantaranya yang kami kelola, 136 lagi dikelola oleh masyarakat yang tergabung dalam KPP," sebutnya.
Para KPP yang dibentuk selanjutnya diberikan pelatihan bagaimana pengelolaan dari SPALD, termasuk menentukan besaran iuran yang ditarik oleh KPP dari warga penerima manfaat.
Hingga saat ini UPTD SPALD Kota Cimahi mendapatkan retribusi dari 3. 000 penerima manfaat se Kota Cimahi. Dengan kewajiban yang harus dibayarkan warga adalah Rp3.000 setiap saluran rumah sesuai dengan Perda yang mengaturnya.
"Kalau yang kami kelola tarifnya disesuaikan dengan Perda yaitu Rp3000 per bulan, setiap saluran rumah. Sementara yang dikelola KPP itu sifatnya iuran yang ditetapkan sesuai dengan hasil kesepakatan warga dengan KPP," terang wanita yang akrab disapa Vada ini.
Dia menyebutkan, UPTD SPALD Kota Cimahi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya melakukan dua kegiatan pokok yaitu melakukan operasional pemelihraan SPALD program Hibah SAIIG terdiri dari 15 unit IPAL dan 3020 Sambungan Rumah.
Selain itu, UPTD SPALD juga melakukan pelayanan penyedotan lumpur tinja untuk masyarakat Kota Cimahi dan sekitarnya yang meliputi pemukiman,perumahan,industri, rumah sakit dan komersial.
"Kami harapkan semua sarana yang dikelola oleh masyarakat bisa terpelihara dan bermanfaat lebih luas sesuai tujuan awal, masyarakat juga harus memiliki kesadaran terhadap pentingnya sanitasi agar lingkungan tetap terpelihara dan kesehatan juga tetap terjaga," pungkasnya.