Rabu, 4 Desember 2019 17:11

Dampak Hebat dari Potensi Land Subsidence di Bandung Raya

Ilustrasi Landsubsidence Net [Fery Bangkit]

Limawaktu.id- Krisis air berkepanjangan diprediksi akan terjadi di wilayah Bandung Raya tahun 2030 mendatang. Penyebabnya adalah adanya penurunan tanah (land subsidence) akibat eksploitasi air tanah yang tak terkendali yang terjadi setiap tahun.

Hal itu diungkapkan peneliti sekaligus dosen di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Insititut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas, saat dihubungi, Selasa (4/12/2019). Sebelumnya, Tim Peneliti Geodesi ITB menemukan fenomena penurunan tanah di wilayah Bandung Raya yang mencakup Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi. Laju  landsubsidence tanah memiliki rentang 1-20 centimeter setiap tahunnya.

"Dampaknya memang rumah dan fondasi bisa retak. Juga ada perluasan areal banjir dan ini yang cukup serius. Tapi yang paling meluas dampaknya, yaitu krisis air tanah di masa depan," ungkap Andreas.

Andreas menerangkan, setiap satu meter penurunan tanah akan berdampak terhadap kedalaman air tanah sedalam 20 meter di bawahnya. "Penurunan tanah ini ada yang 3 meter, 4 meter dikalikan minus 20 meter. Kalau empat meter saja jadi minus 80 meter. Indikatornya, sudah 45 meter saja, kategori air tanahnya sudah krisis, di Bandung sudah ada yang 50-80 meter," terangnya.

Melihat hasil penelitian itu, kata Andreas, ada indikasi Bandung Raya akan mengalami krisis air tanah dan krisis air bersih. "Kita proyeksikan 30 tahun lagi kita bisa kekuragan air, kalau tidak melakukan aksi dari sekarang. Pertimbangkan warisan apa untuk anak cucu kita," katanya.

Ia berharap pemerintah bisa bergerak cepat dan melakukan penelitian lebih lanjut mengenai lapisan tanah di Bandung. "Agar lebih komprehensif dan sinergi dengan akademisi geodesi," katanya.

Ia pun meminta agar warga juga bisa memanen air dengan teknologi water harvesting, daur ulang air atau dengan biopori. "Dengan biopori bisa, tapi kurang efektif, karena yang harus diisi ulang itu air tanah dalam, harus diinjeksi. Memang biayanya agak mahal," pungkasnya.