Minggu, 14 Juni 2020 21:09

Curhat Pedagang Saat TWA Gunung Tangkuban Parahu: Jual Motor untuk Bertahan Hidup

Para pedagang Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkuban Parahu mulai mengisi kembali lapak kiosnya. [Foto istimewa]

Bandung - Para pedagang Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkuban Parahu mulai mengisi kembali lapak kiosnya di objek wisata dengan ketinggian 2.084 meter di atas permukaan laut itu.

Seperti diketahui, adanya pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) sangat berpengaruh bagi para pedagang kerajinan hingga makanan di TWA Gunung Tangkuban Parahu. Aktivitas pariwisata yang lumpuh total mengakibatkan mereka kehilangan pendapatan.

Selama hampir tiga bulan mereka kehilangan mata pencarian hingga akhirnya terpaksa menjual harta bendanya untuk bertahan hidup di tengah pandemi Covid-19, mulai dari menjual barang elektronik, perhiasan hingga kendaraan bermotor.

Seperti yang dialami Ai Nuraini (28). Semenjak kunjungan wisata ditutup bulan Maret, ia dan suaminya harus berjuang keras bertahan hidup tak lagi memiliki penghasilan tetap dari berdagang aksesoris di Tangkuban Parahu.

"Akhirnya atas seizin suami, saya memutuskan menjual sepeda motor. Setelah menjual motor, saya terpaksa meminjam uang karena simpanan semakin menipis," kata Ai ditemui saat membereskan barang-barang dagangan di kiosnya, Minggu (14/6/2020).

Sejak berjualan di Tangkuban Parahu tahun 2008 hingga sekarang, Ai menyebutkan, dampak pandemi Covid-19 dirasakan paling parah, bahkan lebih parah dibanding saat erupsi 2019 lalu.

"Sangat parah, saat erupsi kami masih bisa pindah-pindah jualan. Tapi saat pandemi sekarang, saya gak bisa kemana-mana, diam di rumah karena tempat wisata ditutup semua," ujarnya.

Menurut dia, momen libur Idul Fitri yang biasanya jadi kesempatan untuk meraup untung namun kali ini dirinya harus mengelus dada sebab kunjungan ke objek wisata harus ditutup untuk mencegah penyebaran Covid-19.

"Tapi sekarang kami pasrah, mudah-mudahan korona segera berakhir dan ini usaha bisa lancar," ucapnya.

Setelah pemerintah menerapkan adaptasi kebiasaan baru (AKB) atau new normal di objek wisata, dia berharap kehidupan bisa kembali berjalan seperti biasa.

"Pokoknya sekarang harus bangkit, usaha harus terus berjalan," tandasnya.

Direktur PT. Graha Rani Putra Persada (GRPP) selaku pengelola TWA Gunung Tangkuban Parahu, Putra Kaban menyebutkan, terdapat lebih dari 2.000 orang yang menggantungkan hidupnya dari berdagang di kawasan wisata.

"Masyarakat yang tinggal di sekitar TWA Gunung Tangkuban Parahu rata-rata berprofesi sebagai pedagang, mulai dari makanan hingga berbagai cinderamata," ungkapnya.

Dirinya mensyukuri dan memberikan apresiasi kepada Pemkab Bandung Barat dan Pemkab Subang yang sudah memberikan izin membuka kunjungan wisata. Pihaknya berjanji akan mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah.

"Kita siap, bukan hanya kepada pengunjung, tetapi para pegawai juga diperiksa kondisi kesehatannya terlebih dahulu sebelum bekerja. Bagi pedagang pun kita berlakukan aturan ketat, kalau dari hasil cek suhu lebih dari 37 derajat, maka dipulangkan," terangnya.