Rabu, 13 September 2017 19:03

Cimahi Krisis Air Bersih

ilustrasi [morawatersystems doc]

Cimahi - Krisis air bersih semakin dirasakan warga Kota Cimahi sejak sebulan terakhir. Berdasarkan data Badan Penangguulangan Bencana (BPBD) Kota Cimahi, krisis air bersih musim kemarau tahun 2017 mencapai 4.000 penduduk.Data tersebut diklaim menurun drastis dibandingkan tahun 2015. Dimana tahun itu krisis air bersih di Cimahi mencapai 27.000 penduduk. "Sekarang sudah mulai disuplai air, kita koordinasi dengan UPT Air Minun," kata Kepala BPBD Kota Cimahi, Dani Bastian, Rabu (13/9/2017). Dani mengungkapkan, krisis air bersih hampir merata di tiga wilayah Kota Cimahi.

Zaenal Hamzah (37), warga Kp. Babakan Utama, RT05/02, Kelurahan Utama, Kecamatan Cimahi Selatan, harus rela antre demi mendapatkan air bersih dari rumah warga lain yang memiliki sumur artesis. Menurutnya, krisis air bersih di wilayahnya sudah terjadi sejak dua minggu lalu. Biasanya, saat musim kemarau seperti ini wilayahnya sering tidak kebagian air bersih, baik itu dari pabrik maupun dari salah satu Partai Politik.

"Wilayah kami ini agak jauh dari pabrik, jadi tidak mendapatkan jatah air. Dari partai juga sebenarnya suka ada yang ngasih, tapi jarang sampai ke sini," ujar Zaenal. Dikatakan Zaenal, biasanya warga terpaksa harus memebeli air bersih seharga Rp2.000 satu jerigen berisi 30 liter dari penjual air. Namun kini, ada seorang warga di wilayahnya yang memiliki sumur artesis."Sementara kami minta ke sini dulu, sebenarnya gratis, tapi kami bayar Rp 800 perjerigen untuk mengganti biaya listrik yang punya rumah," katanya.

Ado (56) warga RW 04, Kelurahan Cibeber, Kec. Cimahi Selatan mengaku untuk memenuhi kebutuhan air bersih, ia bersama warga lainnya harus antre di Kantor Kelurahan untuk meminta air. "Sumur kami sudah kering, air PDAM juga tidak mengalir. Di Kelurahan ada sumur artesis, jadi airnya banyak," ujar Ado. Dalam satu hari, Ado bersama warga lain biasanya mengantre pada pagi, siang dan sore secara bergantian. Sekali antre, warga bisa membawa air 5-10 jerigen untuk memenuhi kebutuhan mandi cuci kakus sehari."Pokonya di cukup-cukupakan saja, kalau buat minum dan memasak pakai air isi ulang saja," katanya. Ado berharap, musim kemarau segera berakhir agar wilayahnya tidak terus-terusan kekurangan air bersih. "Mudah-mudahan segera turun hujan lagi, jangan sampai seperti dua tahun lalu, keringnya sampai berbulan-bulan," ucapnya.

Yosua (38), Warga Puri Cipageran, RT08/26, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi misalnya, ia mengeluhkan air di rumahnya tidak mengalir sejak pertengahan Agustus. "Sudah tiga minggu ini tidak ada airnya, terakhir itu pas lebaran Idul adha kemarin. Tapi itu juga airnya kecil, dari jam 11.00 sampai jam 15.00 saja, setelah itu tidak ada lagi," ujar Yosua. Bagi Yosua, kekurangan pasokan air bersih bukanlah kali ini saja. Menurutnya, setiap memasuki musim kemarau panjang, lingkungan rumahnya kerap krisis air. "Jadi udah paham aja, kalau kemaraunya panjang pasti seperti ini. Tapi anehnya itu, (kekurangan air) cuma dibeberapa blok saja, di blok lain lain airnya ada yang ngalir," katanya.

Kini, untuk menutupi kebutuhan air di rumahnya, ia bersama warga lain terpaksa harus datang ke tangki pengisian air milik PDAM.
"Kita udah sedia galon sama jerigen buat di isi di sini (PDAM). Tidak bayar lagi, tinggal bawa struk sama nomor pelanggan. Biasanya paling seminggu tiga kali, ya di irit-irit saja airnya," ucapnya.