Busuk Sejak Ditangaki, Harga Cabai Tetap Pedas di Pasaran
Limawaktu.id - Harga cabai mahal bukan hanya terjadi di tingkat pengecer atau pasar tradisional. Tapi sudah terjadi sejak di tingkat petani.
Yayan (32), petani asal Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menuturkan, biaya menanam cabai hingga memanem di musim kemarau relatif besar. Kondisi itu membuat harga cabai di pasaran pun ikut merangkak naik.
"Iya kalau bagi petani harga mahal bisa menutup biaya operasional dan produksi," ujar Yayan.
Hanya saja, kata dia, produksi panen cabai dimusim kemarau memang menurun. Menurutnya, dari 15 ribu pohon maksimal hanya menghasilkan panen 3 kwintal cabai. Sedangkan kondisi cuaca stabil bagus bisa sampai 5 kwintal.
Sementara di Kota Cimahi, musim kemarau yang cukup panjang membuat petani cabai di Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, terancam gagal panen. Para petani memilih membiarkan cabai mengering di media tanam sebab dinilai tak laku dijual.
Seperti yang terpantau di RW 19 Kelurahan Cipageran pada Kamis (25/7). Lahan kering pertanian yang sudah terlanjur ditanami cabai terlihat layu karena tak disirami air. Bahkan, sebagian terlihat sudah membusuk di tangkainya.
"Kalau memasuki kemarau ini, biasanya memang petani membiarkan lahannya sambil nunggu hujan, sampai bisa diproduksi lagi," kata Rani Kurniati, Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Cimahi Utara.
Di wilayah Cipageran, ada sekitar 50 hektare lahan pertanian kering. Disana ada berbagai jenis sayuran yang ditanam para petani. Salah satunya tanaman berbagai jenis cabai.
Menurut Rani, musim kemarau ini sangat berpengaruh sekali bagi tanaman sayuran. Apalagi untuk sayuran jenis cabai yang saat ini tengah jadi sorotan karena harganya yang sangat tinggi.
"Dampak kemarau ini kan luar biasa, bisa bikin harga cabai mahal. Itu karena memang biaya produksi menyiramnya juga lebih mahal, sementara produksi panennya menurun," jelas Rina.