BMKG Menyingkap Misteri Dentuman Bandung-Sumedang
Limawaktu.id, Bandung - Pada dini hari yang sunyi, antara pukul 00.00 hingga 05.00 WIB , langit di atas Bandung Raya hingga Sumedang dilaporkan "berteriak". Namun, di balik kegaduhan yang memicu getaran pada pintu dan jendela warga, instrumen canggih pemantau bumi justru membisu.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Suwaidi Ahadi mengungkapkan serangkaian laporan dentuman misterius ini sebagai sebuah teka-teki saintifik yang serius.
Fenomena ini bukan sekadar kebisingan atmosfer biasa, melainkan sebuah manifestasi dari "titik buta" teknologi geofisika kita saat ini. Investigasi ini akan membedah bagaimana proses eliminasi ilmiah bekerja ketika alam memberikan tanda yang gagal ditangkap oleh radar konvensional.
“Berbeda dengan peristiwa dentuman di Padang 2009 atau Padang Panjang 2007 —di mana suara ledakan berhasil divalidasi sebagai akibat langsung dari pergeseran lempeng—kasus Bandung-Sumedang kali ini tidak meninggalkan tanda-tanda tektonik,” ungkao Suwaidi, Sabtu, 5 September 2026.
Dia menyebutkan, Pemantauan pada Sesar Lembang, Sesar Cimandiri, Sesar Garsela , hingga Sesar Baribis di wilayah Sumedang tidak menunjukkan aktivitas seismik apa pun yang koheren dengan waktu kejadian. Secara saintifik, ini mematahkan asumsi bahwa dentuman tersebut berasal dari gempa bumi tektonik konvensional.
Spekulasi publik sempat tertuju pada letusan Gunung Anak Krakatau. Namun, analisis dinamika atmosfer menunjukkan ketidakmungkinan secara fisika. Berdasarkan data Satelit Himawari , arah angin saat itu adalah "Timuran" (bertiup dari timur ke barat). Mengingat posisi Bandung berada di sebelah timur Krakatau, atmosfer justru bertindak sebagai isolator suara, bukan penghantar. Angin secara harfiah mendorong gelombang suara menjauh dari Bandung menuju Samudra Hindia.
“Selain itu, minimnya awan di wilayah Bandung memastikan bahwa suara tersebut bukan berasal dari Thunderstorm atau aktivitas petir,” sebutnya.
Dia menjelaskan, penyelidikan berlanjut pada potensi gangguan luar angkasa. Data dari Stasiun Magnet Bumi di Serang dan Sukabumi menunjukkan kondisi yang stabil. Tidak ditemukan adanya jejak Coronal Mass Ejection (CME) atau badai magnetik yang mampu memicu ledakan plasma di ionosfer pada saat tersebut.
Dengan gugurnya faktor seismik, meteorologi, dan magnetik, investigasi ini membawa kita pada satu istilah yang masih menyisakan perdebatan di kalangan ilmuwan global: Skyquake .
Skyquake , atau "gempa langit," adalah kategori fenomena untuk suara dentuman atmosfer yang sumbernya tidak terdeteksi oleh sensor darat. Meskipun secara global fenomena ini telah didokumentasikan, penyebab pastinya masih bersifat spekulatif karena karakteristiknya yang acak dan sering kali singkat.
Berdasarkan tinjauan saintifik dan literatur yang dikaji oleh BMKG, terdapat beberapa hipotesis yang muncul:
Swarm Earthquake (Gempa Swarm): Ada kemungkinan terjadinya gempa runtuhan kecil di zona batu gamping yang menghasilkan suara lokal namun energinya terlalu lemah untuk terekam sensor seismik jarak jauh.
Sonic Boom: Ledakan akibat pesawat supersonik. Meskipun secara teori memungkinkan, sejauh ini belum ada laporan aktivitas penerbangan jet tempur dari pihak TNI AU pada jam-jam krusial tersebut.
Ledakan Plasma Ionosfer: Teori mengenai plasma bubble di atmosfer atas. Namun, ketiadaan data gangguan magnetik lokal melemahkan posisi argumen ini.
Hipotesis Gas Metana (Danau Purba Bandung): Suwaidi Ahadi merujuk pada literatur geologi mengenai potensi pelepasan gas metana dari sedimen Danau Purba Bandung . Secara teoretis, gas metana yang terperangkap di bawah lapisan tanah yang kini menjadi pemukiman padat dapat menghasilkan dentuman saat terlepas secara tiba-tiba ke permukaan. Namun, perlu ditekankan bahwa ini adalah teori literatur, bukan hasil temuan operasional BMKG saat ini.
Misteri Bandung-Sumedang ini menyingkap fakta pahit mengenai infrastruktur geofisika kita: kita sedang mengalami "kebutaan" terhadap gelombang suara frekuensi rendah.
Kunci utama untuk memecahkan misteri Skyquake terletak pada sensor Infrasound (Infrason) , alat yang mampu mendeteksi suara yang berada di bawah ambang pendengaran manusia namun memiliki energi besar.
Secara historis, Indonesia pernah memiliki jaringan alat Infrason melalui kerja sama riset dengan Prancis. Namun, infrastruktur ini dilaporkan telah mati atau tidak beroperasi sejak tahun 2020. Akibatnya, ketika fenomena seperti dentuman ini terjadi, BMKG kehilangan instrumen vital untuk membedakan apakah sumber suara bersifat antropogenik (buatan manusia), meteorologis, atau geologis. Ketiadaan data Infrason membuat fenomena ini selamanya tetap berada dalam ranah misteri tanpa pembuktian absolut.
Meskipun secara saintifik sumber suara belum dinyatakan ajek, BMKG memberikan kepastian bahwa fenomena ini adalah "penanda alam" (precursor) yang tidak mengindikasikan ancaman bencana besar dalam waktu dekat.