Kamis, 24 Oktober 2024 12:49

Bey Machmudin Minta BP2D Jabar Teliti Rasi Kampung Cireundeu

Pj Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin mencoba beras singkong yang menjadi makanan pokok warga Kampung Cireundeuu [Diksominfo Kota Cimahi]

Limawaktu.id, Kota Cimahi - Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin merasakan keajaiban budaya yang masih hidup berupa olahan berbahan singkong alias rasi yang menjadi pangan utama warga. Makanan khas itu nyaris berusia 100 tahun dan masih dipertahankan hingga kini.

“Jadi hari ini saya ke (Kampung Adat) Cireundeu, karena masyarakat kampungnya yang masih mempertahankan kearifan lokal. Saya sudah lama mendengar mereka, salah satunya karena menjaga tidak mengonsumsi nasi dari padi,” ujar Bey Machmudin, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (24/10/2024).

Menurut dia, rasi ini bisa menjadi pangan alternatif pengganti beras bagi masyarakat.

“Tadi saya coba makan rasi juga, enak ya. Di sini (masyarakatnya) tidak buncit, sehat-sehat. Maka itu kedepannya kita jadikan ini (singkong) sebagai solusi diversifikasi pangan. Memang masyarakat di sini sejak 1918, awalnya makan beras padi. Tapi tahun 1924, beralih ke singkong,” ungkap Bey.

Untuk itu, dirinya menginstruksikan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP2D) Jawa Barat untuk melakukan penelitian mengenai singkong yang disiapkan pemerintah sebagai alternaif selain beras.

“Nah kebiasaan itu kan bisa untuk membantu ketahanan pangan kita. Saya dengan Kepala BP2D, minta diteliti apakah memungkinkan kita memperkenalkan singkong untuk jadi alternatif, karena kan itu baik.

Pada kesempatan yang sama Bey juga mengungkapkan pentingnya memberikan rasa aman bagi masyarakat adat, terutama dalam hal kepemilikan tanah.

"Kami ingin memastikan bahwa mereka yang sudah lama tinggal di sini merasa aman, tidak terganggu oleh masalah hukum terkait tanah," tegasnya.

Dia juga menyebutkan bahwa langkah awal sudah diambil berkoordinasi dengan Kepala Kantor Wilayah BPN Jabar untuk mempercepat proses sertifikasi tanah bagi warga Cireundeu.

Kampung Adat Cireundeu bukan hanya menjadi simbol kekuatan tradisi, tetapi juga menjadi model ketahanan pangan berbasis lokal yang relevan untuk masa kini.

Dengan dukungan Pemda Provinsi Jawa Barat, potensi kearifan lokal ini diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi contoh bagi daerah lain di Jabar dan seluruh Indonesia.