Berperan sebagai Ustadz Memed, Ketua DPRD Kota Cimahi Dukung Film Kompi Daeng
Limawaktu.id, Kota Cimahi – Ada yang berbeda diperlihatkan oleh Ketua DPRD Kota Cimahi Wahyu Widyatmoko. Pasalnya, jika biasanya dia berkegiatan dengan aktivitas politiknya, kali ini Ketua DPRD Kota Cimahi asal Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) ini ikut larut dalam sebuah film karya para sineas Kota Cimahi.
Lewat Film Kompi Daeng, Wahyu Widyatmoko didaulat untuk memerankan tokoh Ustadz Memed, seorang guru agama asal Gununghalu Cililin untuk ikut berjuang saat terjadinya perang antara para pejuang tanah air dengan tentara sekutu dan NICA pasca kemerdekaan Republik Indonesia.
Salah saorang pemeran Belanda Yana menyebutkan, sebagai pemeran, dirinya harus menjiwai karakter sebagai seorang Belanda selaku tokoh yang paling galak.
“Kita harus menjiwai karakter yang kita perankan dalam film itu,” sebut Yana.
Sedangka Aurelia, pemeran Asih sebagai adik dari Kohar di Film Kompi daeng mengatakan, dari cerita Film Kompi Daeng yang menceritakan tentang seoarang seniman Longser yang mengalami penjajahan saat itu, melihat perjuangan ayahnya dan kakaknya Kohar membentuk dirinya menjadi perempuan yang berani dan ikut berjuang bersama tokoh lainnya.
Sementara tokoh Udin yang diperankan Deni mengatakan, dengan kentalnya kearifan lokal di Cimahi, seniman longser merasakan keresahan rakyat akibat penjajahan Belanda di Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan.
“Belanda akhirnya membungkam para senima longser untuk tidak menyuarakan kemerdekaan,” katanya.
Para senima longser dalam Film Kompi Daeng ini dimunculkan saat melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda.
“Dengan sinergitas, multi etnis, multi budaya kita bersama-sama bersatu untuk menegakan kemerdekaan,” paparnya.
Deni melanjutkan, sebagai pemain dan penulis naskah longser dirinya tak memerlukan waktu lama untuk beradaptasi apa lagi dengan bumbu cerita perjuangan sehingga menjadi lebih menarik.
“Film ini sebenarnya sexy bisa menjadi bahan edukasi bagi para pelajar supaya mereka sadar siapa dirinya, dan seni itu merupakan jati diri bangsa,” bebernya.
Ketua DPRD Kota Cimahi Wahyu Widyatmoko yang berperan sebagai Ustadz Memed, seorang guru ngaji asal sebuah pesantren di Gununghalu mengungkapkan, awalnya dia tertarik untuk ikut menjadi salah satu pemain Film Kompi Daeng ini karena sebelum dilaksanakan produksi Film, Dede Syarif dan sejumlah seniman lainnya melakukan audensi dengan Ketua dan anggota DPRD Kota Cimahi terkait dengan rencana pembuatan Film Kompi Daeng.
“Saya juga diberikan buku Prahara Cimahi yang menceritakan perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang luar biasa. Ketika ada tawaran untuk ikut menjadi pemain saya mempersilakan crew untuk melanjutkan proses pembuatan Film ini,” ungkapnya.
Film Kompi Daeng ini, kata Wahyu menjadi kesempatan pertama bagi didrinya untuk berakting. Memerankan Ustad Memed di Film Kompi Daeng ini harus disesuaikan dengan naskahnya, berbeda ketika shooting komedi dan yang lainnya.
“kalau di komedi kita bisa melakukan improvisasi, tetapi dalam film perjuangan ini kita harus hapal naskah dan menghayati peran yang dimainkan ketika berperan sebagai pejuang ,” jelasnya.
Saat Shooting Film Kompi Daeng ini, Wahyu baru mendapatkan naskah saat tiba di lokasi. Beberapa jam setelah menerima naskah dirinya harus berusaha menghapal dialog dan bekerja keras.
“Di Film itu saya memerankan sebagai Ustad Memed yang berasal dari pesantren di Gunguhalu, karena saat itu beberapa pesantren selalu melakukan komunikasi dengan KH Usman Dhomiri untuk melakukan perlawanan kepada tentara sekutu,” katanya.
Film Kompi Daeng yang bersumber dari buku Prahara Cimahi ini merupakan kisah nyata peperangan empat hari empat malam yang terjadi Cimahi sehingga Wahyu sangat tertarik untuk ikut ambil bagian didalamnya.
“film ini akan bermanfaat bagi anak-anak muda kita, ini mengisahkan perjuangan para pahlawan dan santri itu sangat luar biasa, sehingga kita bisa menikmati suasana nyaman saa sekarang menikmati kota ini,” bebernya.
Film Kompi Daeng ini akan menjadi titik awal untuk menuju produksi film yang lebih besar lagi, karenanya dibutuhkan kontribusi dari pemangku kebijakan dalam bentuk apa saja.