Atap Sekolah Ambruk, Siswa SDN Gudangkahuripan III di Ruang Guru
Limawaktu.id - Proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gudangkahuripan III, Desa Gudangkahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) terhambat akibat ambruknya atap salah satu ruang kelas pada Rabu (2/10/2019) sore.
Sedikitnya dua ruang kelas saat ini dikosongkan untuk mencegah kemungkinan buruk. Sehingga, siswa kelas III dan kelas V terpaksa disatukan dalam satu ruangan kelas. Bahkan mirisnya lagi, ruang guru yang sempit, harus dibagi supaya bisa digunakan sebagai ruang belajar siswa kelas VI.
Kepala SDN Gudangkahuripan III, Dindin Tajudin mengatakan, sejak hari Senin (30/9) dua ruang kelas yakni, ruang kelas V dan kelas VI dikosongkan dari segala aktivitas belajar. Meski begitu, KBM tetap berlangsung dengan memanfaatkan berbagi ruang di kelas lain.
"Kita tidak mau ambil risiko, jadi siswa untuk KBM-nya kita pindahkan. Ada yang disatukan dengan kelas tiga dan yang kelas enam KBM-nya di ruang guru," ucap Dindin saat ditemui di SDN Gudangkahuripan III, Kamis (3/10/2019).
Diakui Dindin, hampir semua bangunan kelas belum mengalami rehabilitasi dan dalam kondisi rentan yang salah satunya terlihat adanya retakan pada dinding di beberapa bagian. Apalagi, terakhir rehabilitasi kelas dilaksanakan pada tahun 2005 dan itu pun hanya pemasangan keramik dan genteng saja. "Ini masih kerangka bangunan lama, belum pernah direhabilitasi sejak 1965," ungkapnya.
Mengingat pentingnya KBM, kata dia, pihak sekolah terpaksa menyatukan siswa berbeda kelas dalam satu ruangan dan juga memanfaatkan ruang guru sebagai ruang kelas alternatif pasalnya pihak sekolah tidak mau aktivitas belajar siswa terbengkalai. "Alhamdulillah pihak orang tua pun mendukung, tidak ada komplen karena yang penting KBM terus berjalan, dan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) harus terkejar, tidak boleh terlewatkan," ujarnya.
Diungkapkan Dindin, pihak sekolah tidak tahu sampai kapan aktivitas belajar siswa di satukan dalam satu ruangan. Walaupun setiap tahun mengajukan proposal untuk mendapat bantuan rehabilitasi sekolah namun sampai saat ini belum ada respon, baik dari Pemda Bandung Barat, Pemprov Jabar, maupun kementerian terkait. "Sebelum terjadi (atap rubuh) kami membuat usulan ke instansi terkait untuk dibantu, belum ada respon jadi kami masih menunggu tidak tahu sampai kapan," pungkasnya.