Antisipasi Sesar Lembang, Pemkot Cimahi Perkuat Kesiapsiagaan Bencana
Limawaktu.id, Kota Cimahi - Pemerintah Kota Cimahi bergerak cepat memperkuat sistem mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi ancaman bencana alam, khususnya risiko gempa bumi yang dipicu oleh aktivitas Sesar Lembang. Langkah taktis ini ditegaskan dalam pembukaan workshop kedaruratan yang dihadiri oleh berbagai unsur pemangku kepentingan.
Membuka kegiatan tersebut, Walikota Cimahi Ngatiyana mengajak seluruh elemen masyarakat dan jajaran aparatur daerah untuk merefleksikan kembali kesiapan kota dalam menghadapi situasi darurat. Menurutnya, dalam kondisi bencana, kecepatan dan ketepatan bertindak menjadi kunci utama keselamatan warga.
"Kesiapsiagaan bukanlah tanda ketakutan, melainkan bukti bahwa kita peduli terhadap keselamatan masyarakat. Investasi pada mitigasi dan perencanaan kontingensi jauh lebih bijaksana daripada harus menanggung biaya pemulihan yang lebih besar setelah bencana," ujar Ngatiyana, Senin, 19 Oktober 2026.
Walikota menitipkan tiga poin krusial yang harus segera diimplementasikan oleh seluruh jajaran, pertama Kejelasan Peran melalui Klaster Nasional Pengungsian dan Perlindungan (Klasnas PP)
Walikota menekankan pentingnya koordinasi yang matang agar tidak ada pihak yang bekerja sendiri-sendiri.
“Melalui sistem Klasnas PP, penanganan pengungsi harus melampaui pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan dan tempat berteduh, melainkan wajib menjamin keamanan, martabat, serta akses layanan yang layak bagi seluruh korban terdampak,” katanya.
Kedua, dalam Perencanaan mitigasi diminta untuk tidak menempatkan kelompok rentan hanya sebagai pelengkap dokumen. Anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, dan ibu menyusui harus mendapatkan perhatian khusus sejak tahap evakuasi hingga pemulihan.
Pemerintah daerah diinstruksikan untuk memetakan jalur evakuasi yang aman dan aksesibel, serta memastikan posko pengungsian ramah anak dan bebas dari risiko diskriminasi.
Ketiga Penyusunan Rencana Kontingensi Realistis Berbasis Kolaborasi Pentahelix. Rencana kontingensi yang disusun harus menjadi dokumen hidup yang siap dieksekusi, bukan sekadar pajangan di atas meja. Skema ini wajib berbasis kajian risiko nyata di Kota Cimahi, mencakup kepastian lokasi pengungsian alternatif, ketersediaan logistik, personil, dan mekanisme komando yang jelas antar-perangkat daerah melalui kerja sama pentahelix (pemerintah, akademisi, komunitas, bisnis, dan media).
“Workshop ini diharapkan menjadi momentum krusial untuk melatih personil, menyatukan pemahaman sistem, dan menguji rencana kontingensi sejak dini guna mengamankan waktu berharga saat darurat benar-benar terjadi,” jelasnya.