Ajay Belum Berani Buka Sekolah di Cimahi, Ini Sebabnya!
Cimahi - Wali Kota Cimahi, Ajay Muhammad Priatna menegaskan, untuk saat ini sekolah di Kota Cimahi tetap menggelar Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara daring di rumah. Artinya, tahun ajaran baru ini kegiatan sekolah tidak akan digelar secara tatap muka.
Hal itu dilakukan untuk mencegah penularan virus korona atau Covid-19 di lingkungan sekolah. Apalagi saat ini Kota Cimahi masuk zona oranye atau tingkat sedang penyebaran virus korona.
"Sekolah belum akan dilaksanakan dulu karena belum ada zona hijau. Sekarang kita masih zona oranye jadi masih belum memungkinkan," ungkap Ajay, Rabu (29/7/2020).
Sebagian wilayah di Jawa Barat sendiri saat ini sudah diperbolehkan menggelar sekolah tatap muka namun khusus untuk kecamatan yang sudah masuk zona hijau. Namun, kata Ajay, kecamatan di Cimahi saat ini tidak ada yang berada di zona hijau. Hal tersebut lantaran pertumbuhan kasus positif Covid-19 masih tinggi.
Jika memaksakan menggelar sekolah tatap muka, Ajay khawatir akan memunculkan klaster baru di dunia pendidikan. Apalagi risiko penularan Covid-19 di lingkungan siswa cukup tinggi.
Hingga saat ini, tercatat sudah ada 119 warga Kota Cimahi yang terpapar virus korona. Rinciannya, 103 orang sudah dinyatakan sembuh, 4 orang meninggal dunia dan 12 rercatat masih dalam proses positif aktif.
"Kita tidak tahu bagaimana aktivitas anak di luar rumah, belum lagi kontak mereka dengan teman-temannya. Kemarin ada kasus di Bengkulu, karena sekolah tatap muka ada 17 anak positif. Kita tidak mau seperti itu," terangnya.
Ajay menyebut sekolah tatap muka mesti dilaksanakan dengan pola pengawasan yang ketat. Misalnya hanya setengah jumlah siswa di tiap rombel, tidak ada jam istirahat, anak diantar jemput oleh orangtuanya, dan menerapkan protokol kesehatan.
"Kalau itu semua bisa dipraktikan mungkin bisa, tapi kan praktiknya tidak akan semudah teorinya. Akan sulit melakukan pengawasan aktivitas siswa, terutama anak SD," bebernya.
Ajay berharap orangtua bisa lebih sabar dalam mendidik anak di rumahnya sebab saat ini masih belum memungkinkan menggelar sekolah tatap muka.
"Orangtua harus lebih sabar mendidik anak, kita paham dari segi ekonomi dan kondisi orangtua serba sulit. Yang kerja mungkin terganggu, tapi ini demi kebaikan anak-anak. Jangan sampai mereka boleh sekolah tapi malah positif Covid-19," tandasnya.